“Maafin aku Ka, aku belum siap” Ucap Via kepada cowok di hadapannya. Cowok itu hanya menunduk dengan tangan yang mengepal.
“Maaf ya” Via lagi lagi meminta maaf. Ia tak enak hati menolak mantan kakak kelasnya ini. Tapi bagaimanapun, Via memang belum siap berpacaran, meskipun siap, Via ngga akan memilih Iel.
Perlahan Iel mengangkat kepalanya. “Oke Vi, gue duluan ya” pamitnya. Via ngga tega juga sih. Mana kata Ify, sahabat Via, iel ini orangnya gampang emosi. Sekali keinginannya ngga terpenuhi, gawat deh. Via sempet ketakutan juga sih, semoga Iel ngga melakuakn hal bodoh karna hal yang satu ini.
Namun dugaan Via salah besar, iel kecewa Via menolaknya. Iel susah jatuh cinta dan sekalinya jatuh, Iel ngga bisa keluar.
“Udahlah Bang, cewek kan masih banyak” ujar Alvin, adik Iel yang beda setahun dengannya.
“Vin, gue cinta mati sama Via Vin, gue ngga terima” ucap Iel dengan nada yang memprihatinkan. Ia bangkit lalu mengambil helmnya. Alvin mengikutinya smpe depan rumah. “Mau ke mana lo Bang ?”
“Lo ngga perlu tau Vin, gue butuh ketenangan”
Alvin panic tapi dia ngga bisa melakukan apa-apa. Abangnya ini terlalu nekat. Alvin hanya berharap Iel kembali ke rumah nanti malam.
Alvin menanti, menanti dan menanti Iel datang. Tapi, udah jam Sembilan maalam, Iel belum datang. Tentu Alvin khawatir.
TING TONG.. bel rumah Alvin.
Alvin menuju pintu dnegan cepat. “Bang” ucapnya saat membuka pintu tapi ia salah, yang datang malah dua orang polisi. “Kenapa ya Pak ?”
Alvin shock berat ! Iel kecelakaan dan ngga terselamatkan. Motornya masuk jurang akibat terlalu kencang mengemudi. Alvin menyesali ini. Kenapa harus gara gara seorang cewek, abangnya bisa kayak gini ?
////////////////////////////// ////////////////
Alvin menutup wajah dengan tangannya. Masih dengan pakaian serba hitam. Kini ia sendiri. Terakhir kali ia berpakaian serba hitam seperti ini, saat kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan pesawat. Saat itu, Alvin hanya berdua dengan Iel. Dans ekarang ? Alvin hanya sendiri.
Tangan Alvin mengepal. Ia berjalan cepat menuju kamar abangnya. Foto foto gadis itu tertempel di dinding kamar abangnya. Alvin mendekati salah satu dari foto gadis yang tak lain adalah Via. Jadi ini cewek yang udah bikin lo gila ? Sesakit itukah ? benak Alvin. Alvin mendekati meja milik iel. Ada sebuah buku catatan kecil dengan cover ditempeli foto Via. Alvin buka perlahan.
Di dalam buku itu terdapat lengkap informasi tentang Via. Sekolahnya, hobi, makanan kesukaan, minuman kesukaan, dan banyak lainnya. Via, memang cantik, manis, tapi apa pantas Iel berbuat bodoh seperti itu hanya karna ditolak gadis ini ?.
Alvin mengingat ingat. Iel emang begitu. Kalo keinginannya ditolak, dia akn marah, emosinya ngga terkendali.
BRAK. Alvin menggebrakmeja Iel. ‘Gue bakal balas dendam Bang’ tekadnya. Gue harus ngancurin cewek ini kayak dia ngancurin lo, ngga akan ada yang bisa milikin dia Bang. Dan ngga akan ada yang mau !
////////////////////////////// ///////////////
“Maaf” Via memunguti buku bukunya yang barusan jatuh.
“gue yang harusnya minta maaf, sorry ya” suara cowok. Via mendongak. Ya Tuhan, Via terpesona sama cowok ini. Cowok itu membantu memunguti buku Via.
“Lo anak baru ya ?” tanya Via dan cowok itu mengangguk.
“Alvin” cowok itu mengulurkan tangannya. Via menerima uluran tangan itu, “Oh, mm Sivia, panggil Via”.
Via lebih cantik daripada yang di foto. Batin Alvin.
Alvin tersenyum, membuat Via ikut tersenyum.
“Oh iya, mau ke mana Vi ?” tanya Alvin basa basi.
“Ke perpus”
“Gue bantu ya” Alvin mengambil beberapa buku dari tangan Via. “Oh iya”
////////////////////////////// ////////////////
“Lo pindahan dari mana ? Kelas ?”
“Dari 88, gue kelas dua belas ipa 3”
“Oh, gue kelas ipa 1”
Keduanya diam.
“Mmm Vin, gue duluan ya, Bye” pamit Via ketika sampai di depan kelasnya.
“Bye” Alvin memberikan senyum perpisahan yang sangat manis dan coooool. Membuat Via benar-benar melting.
“Cie, siapa Vi ?” tanya Ify melihat Via berbinar binar.
“Anak baru Fy, cakep ya ?”
Ify mengangguk ngangguk.
////////////////////////////// //////////////
“Hei Vi, mau pulang bareng ?” Alvin menghampiri Via yang sedang duduk di halte.
“Oh, emang rumah lo dimana ?”
“Udah yuk bareng aja”
“Ngga apa apa nih ?”
“Iya ngga apa-apa, ayo”
“Thx ya” Via menaiki Ninja Alvin.
NGEEEEEENGGGG. Alvin sangat ngebut bawa motornya sampe mau ngga mau Via harus pegangan ke pinggang Alvin.
“Thx ya Vin” ucap Via setelah sampe di depan rumahnya.
“Samaa sama Vi, besok besok, pulang bareng gue aja ya”
“hah ?” Via terkejut mendengar tawaran Alvin.
“Gue seneng kok Vi nganterin lo”
Ucapan Alvin yang satu itu membuat jantung Via bekerja lebih ekstra. Via mengangguk tersipu. Lagi lagi Alvin memberinya senyuman. “Gue duluan ya Vi”.
////////////////////////////// //////////////
Ya tuhan, gue jatuh cinta sama Alvin ? Padahal baru hari ini kita ketemu. Pikir Via.
Rencana kita mulai berjalan. Batin Alvin smbil memegangi foto Iel.
////////////////////////////// ///////////////
Sudah seminggu ini, Alvin dan Via dekat. Dekat sekali. Ify sampe sebel dicuekkin mulu sama Via. Setiap istirahat, Via ke kantinnya sama Alvin. Ke perpus juga gitu.
Sampe suatu hari,
“Vi, kita nonton yuk” ajak Alvin. Via dengan semangat mengangguk.
Alvin membawa Via ke sebuah mini room theater yang bisa dinikmati untuk berdua.
“Ngga apa apa kan ?” tanya Alvin. Via sebenrnya agak berat juga mengatakan tidak. Via curiga aja gitu. Ah tapi, Via yakin Alvin anak baik.
Sebuah film romantic diputar. Alvin menikmati popcornnya sementar Via berusha menghapuskan kecurigaannya.
Sudah setengah jam film diputar. Via sudah mulai masuk ke dalam film itu, ia sudahtidak memikirkan kecurigaannya lagi.
Alvin mencuri pandang kearah Via sambil tersenyum licik. Ia angkat tangannya dan merangkul Via. Via agak tersentak. Pasalnya, Via ngga suka disentuh sentuh.
“Aduh, apaan sih Vin” Via bangkit namun tangannya segera diraih Alvin. Alvin berjalan pelan mendekati Via lalu memeluknya pinggangnya.
“Vin, lepasin Vin” ucap Via pelan. Ia berusaha melepas tangan Alvin dari pinggangnya.
“Kenapa ?” tanya Alvin. Ia taruh kepalanya di atas bahu Via.
“Gue ngga suka” Via mulai berontak.
“Ngga suka ?” Pelukan Alvin malah semakin erat. “Sekarang ? Masih ngga suka ?”
Via ngga sanggup berkata apa-apa. Mulutnya terkunci.
Tangan kanan Alvin membelai rambut Via lalu meletakannya ke belakang telinga Via smpai telinga Via terlihat jelas. “Sivia” ucapnya lembut. Via menelan ludahnya, dia benar benar kehabisan kata kata.
“Aku suka sama kamu Vi, Aku mau kamu jadi milik aku, kamu mau kan… Sivia” pinta Alvin lembut. Kini tangan kanannya menyentuh wajah Via, mengikuti liuk bentuk wajah Via.
Via menghela nafasnya. “Viin” ia berusaha melepaskan tubuhnya lagi tapi pelukan Alvin semakin semakin erat. “Ayolah Vi, aku bener bener sayang sama kamu, kamu mau kan ? Aku ngga akan lepasin kamu Vi sebelum kamu mau, mau jadi milik aku, ya ?”
Alvin melepaskan pelukannya, ia memposisikan dirinya di depan Via. “Liat mata aku Vi, aku ngga bohong kan ?” Via tatap mata Alvin. Tatapan mata Alvin begitu lembut. Via seperti terhipnotis dengan tatapan itu. “Aku tau, kamu juga suka kan sama aku” Alvin mengitari Via lalu brhenti di belakangnya. Kembali memeluk Via seperti tadi.
“Inget, aku ngga akan lepasin kamu sebelum kamu mau terima aku Vi”
Ucapan ucapan Alvin terdengar begitu lembut di telinga Via.
“Mau kan ?” tanya Alvin sekali lagi.
Sangat perlahan, Via menganggukan kepalanya. Hatinya masih ragu tapi sesungguhnya, ia memang menyukai Alvin.
Alvin tersenyum. “Makasih sayang” ucapnya. Ia lepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan Via, mereka kembali duduk, menikmati film yang ada.
Entah kenapa, Via merasa nyaman tangannya berada di genggaman tangan Alvin.
“Kamu ngga usah takut ya sama aku Vi” ucap Alvin sembari mendorong kepala Via ke bahunya. Via mengangguk. Nyaman.
Alvin tesenyum puas. Dapet ! serunya dalam hati.
////////////////////////////// ///////////////////////
“Yaelah, selamat deh kalian udah jadian !! Peje dong ya” kata Ify. Kebetulan mereka lagi ada di kantin. Sekalian minta pajak.
“Ambil makanan sepuas lo, gue yang bayar” ucap Alvin.
“Thanks Vin !” Ify langsung ngabrit ke kantin Bu Retno.
“Sayang” ucap Alvin manja sambil memeluk Via. Via yang baru menyeruput jus jeruknya langsung kaget dan tersedak. “Uhuk, Vin, ini kantin”
“Nggapapa dong Vi, sini aku suapin kamu roti ya” tangan kanan Alvin menyuapi Via sesobek roti dengan tangan kiri berada di pinggang Via.
Ify kmbali dengan wajah heran. Mau maunya via dipeluk sama Alvin, biasanya kan dia paling anti dipegang cowok. Batin Ify.
“Ehem, Vin, kayaknya ini tempat terlalu umum deh”
“Sirik aja lo Fy” ucap Alvin. Alvin tak melepaskan pegangannya. Ify menatap Via tajam, Via tersenyum kecil.
////////////////////////////// ///////////////
Begitulah setiap hari, Alvin dan Via sngat dekat, kayak susah banget dipisah. Ify Cuma geleng kepala aja. Si Alvin ngasih apa sih sampe Via ngga berkutik gitu.
Via nyaman nyaman aja sama Alvin. Alvin melindungi dirinya. Setiap dia digangguin, Alvin selalu menjaganya. Seperti waktu Via diganggu preman deket halte.
“Eh lo, jangan ganggu ganggu cewek gue” Via sembunyi di balik tubuh Alvin. Alvin adalah sang pahlawan baginya.
Alvin juga selalu bersikap manis padanya.
////////////////////////////// ///////////////
Ify benar benar curiga, makinhari, Alvin Via makin lengket aja. Via juga keliatannya seneng seneng aja dipegang Alvin.
Suatu hari, Alvin ijin ke Via mau pergi jadi ngga bisa pulang bareng. Inilah saatnya Ify nguntitin Alvin ,menyelidiki asal usul cowok Via.
Eh tapi kok Alvin malah pergi ke pemakaman.
Ify mengawasi Alvin dari jauh.
“bang, dendam lo bentar lagi bakal terlaksana, cewek itu bakal ancur !” ucap Alvin. Setelah Alvin pergi. Ify mendekati makam itu, melihat siapa yang diziarahi Alvin. Dan Ify kaget bukan main. “Kak Iel ?!”
Ify semakin penasaran. Iel meninggal ? Karena ? Terus, Alvin siapanya Iel ? Kenapa tiba tiba dia masukin hidup Via ? Apa ada hubungannya sama Iel ?
Ify meng sms Alvin untuk bertemu dengannya sore ini di café Teens. Alvin datang.
“Ada apa Fy ? tumben”
Wajah Ify serius. “Jujur, ada hubungan apa lo sama Kak Iel ?”
Alvin terkejut mendenga pertanyaan Ify. Ia terdiam.
“jawab Vin !”
“Dia abang gue”
Ify shock. Jadi ?
“Dia meninggal dua bulan lalu karena kecelakaan, dia emosi waktu cewek yang sangat dia cintain nolak dia”
Ify mulai menemui titik permasalahn. Iel kaka Alvin. Iel meninggal dua bulan lalu. Waktu dimana Via nolak Iel. Dan tadi Alvin bilang Iel kayak gitu karna ditolak cewek.
“Jadi, maksud lo ? Lo mau bales dendam sama Via ?”
Alvin tertawa remeh. “Bukan urusan lo”
“Vin, please Vin, jangan lo sakitin Via”
“Kenapa dia juga harus sakitin abang gue ?”
“Vin, Via itu masih polos, lugu, dia ngga pernah pacaran sama sekali, lo orang pertama, dia nolak Kak Iel karna dia emang belum siap pacaran”
“Terus ? Kenapa dia mau sama gue ?”
“Karna dia suka sama lo ! Dia ngga suka sama Kak Iel, Vin, gimana pun, Via ngga mungkin jadiin Kak Iel cowoknya kalo emang dia ngga suka”
“Oh ya ? Dan akibatnya sefatal ini ?”
“Vin, Via juga ngga tau akibatnya sampe begini”
“Ah udahlah” Alvin bangkit, menginggalkan Ify.
“Vin, dengerin kata kata gue barusan”
Alvin tak menggubrisnya meskipun ia mendengar dengan baik apa yang dikatakan Ify.
////////////////////////////// /////////////////////////
“Vin, jangan lo sakitin Sivia, gue sayang sama dia, gue pergi karena emang udah takdir, gue mohon Vin, jaga dia”
Alvin terbangun dari tidurnya. Ia tampak begitu gelisah. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya, deras. Suara Iel muncul dalam mimpinya. Alvin menggelengkan kepalanya. “Ngga”
////////////////////////////// ///////////////////////
Kini, Alvin selalu memandang Ify sengit. Ify sendiri belum memberitahukan hal itu kepada Via.
“Vi, pulang sekolah, ke rumah aku yuk” ajak Alvin.
“Hah ? Ngapain Vin ?”
“Ya maen aja, nonton film, karokean, atau apalah, ayolah Vi”
Via mengangguk. Ia tak bisa menolak permintaan Alvin.
Sepulang sekolah, Alvin membonceng Via. Di tengah jalan, hujan deras. Sesampainya di rumah Alvin, mereka basah kuyup.
“Loh Vin, rumah kamu sepi”
“Iya, lagi pada pergi”
KLIKKK.. Alvin mengunci pintu. Via kaget. “Vin kok dikunci”
“Hujan, dingin”
“Kan ngga usah dikunci”
“Suka banyak maling say, udah ayo duduk dulu di ruang TV”
Alvin menggenggam tangan Via lalu membawanya menuju ruang TV.
Mereka berdua duduk di sofa. Alvin menatap Via dengan tatapan maut, sangat lembut. Tangan kirinya tak lepas dari tangan Via. Sedangkan tangan kanannya memegangi dagu Via. “Kamu manis Vi, Cantik”
Via tersenyum malu.
Wajah Alvin mendekat. Via menutup matanya. STOP ! keduanya hanya berjarak satu centi sekarang. Alvin menatapi wajah Via, apa pantas ?
CUP.. sebuah ciuman mendarat di pipi Via. Agak berubah dari apa yang direncanakan Alvin sebelumnya. Entah kenapa Alvin ngga tega.
Via membuka matanya. “Vin”
“ya ?”
“Kamu sayang sama aku ?”
Alvin menelan ludahnya. Dia ngga tau dengan perasaannya sendiri. Akhirnya ia mengangguk sambil tersneyum. “Aku sayang sama kamu Vi”
“Aku juga” Alvin kaget, Via memeluknya.
“Kamu janji ya ngga akan tinggalin aku, ngga akan nyakitin aku” kata Via. Alvin mngangguk. Nyakitin ? Alvin teringat Iel. Ia harus melaksanakan dendamnya.
“Sayang, kamu mau minum ? Aku bikinin teh anget ya” tawar Alvin. Via tersenyum.
Alvin berjalan menuju dapur. Ia aduk secangkir teh anget untuk Via yang sebelumnya sudah ia campur dengan obat tidur.
“Nih Vi, minum, abisin ya”
Via menerimanya, glek glek glek, ia meminumnya habis. “Makasih Vin”
Alvin memutar sebuah film. Mereka menonton berdua. Berkali kali Alvin mencuri pandang ke Via tapi belum ada tanda tanda.
“Hoahmm, aduh Vin, kok aku ngantuk gini ya”
Alvin tersenyum puas, “dingin sih Vi”
“Iya hmmm” Via menyenderkan kepalanya di bahu Alvin. Alvin kibaskan tangannya di depan wajah Via lalu tersenyum licik.
Ia angkat Via dan mmbawanya ke dalam kamar. Diletakkannya tubuh Via di atas kasur.
ia dekatkan wajahnya ke wajah Via. Alvin menelan ludah. Wajah Via benar benar polos. Apa harus ia melakukan hal seperti ini kepada gadis sepolos Via ?
Aaaaaargghhh !!! Gue ngga bisa !! jerit hati Alvin. Alvin ngga tega. Suara Iel dan perkataan Ify terputar di dalam otaknya. Alvin kembali menatap wajah Via. Lekat. Ia kecup lembut kening Via. Gue ngga bisa nyakitin lo Vi.
Alvin bangkit lalu menyelimuti Via.
////////////////////////////// //////////////////
Kepala Via pening. Matanya terlalu lengket untuk dibuka.
Perlahan ia sadar. Dan ia kaget mendapati dirinya ada di kamar cowok. Ia tampak panic. Ia periksa badannya, syukurlah, seragamnya masih utuh. Ia bangun dan mncari seseorang.
“Vin, Alvin”
“Vi, aku di sini” seru Alvin dari dapur. Alvin sudah berganti pakaian.
“Vin, ini jam berapa ?”
“jam tujuh pagi”
“Apa ? Aku aku aku ti ti tidur di sini ?”
Alvin mengangguk sambil mengaduk teh hangat.
“Iya, nih minum dulu”
Via terdiam. Semalam dia ada di kamar Alvin.
“Vin” panggil Via pelan.
“ya ?”
“kamu, kamu engga..mm aku tidur sendiri kan ?”
Alvin tersenyum kecil. Membuat via curiga. “jawab Vin”
“Kamu ketiduran, aku ngga tega bangunin kamu, aku tidur di depan TV kok”
Via bernafas lega.
“Kamu ngga ngapa-ngapain kan ?”
“Ngga lah, tenang Vi, ngga ada kejadian apa pun tadi malem, sekarang, kamu mandi, ganti baju punya mamah aku, makan, terus nanti aku anterin pulang ya”
Via mengangguk.
Ia menuruti apa kata Alvin tadi.
Setelah makan.
“Ayo aku anterin pulang”
“Vin”
“Hm ?”
“Ngga usah, aku pulang sendiri aja”
“Aku yang bawa kamu ke sini, aku juga yang harus anterin kamu pulang”
“Jangan Vin, aku ngga mau Mamah aku nuduh kamu macem macem”
“tapi Vi”
“Jangan ya Vin”
Baik banget lo Vi. Benak Alvin.
Alvin tersenyum, “Ya udah, aku panggilin taksi ya”
Via mengangguk.
“Itu Vi taksinya di depan”
“Makasih ya Vin”
“vi” Alvin menarik lengan Via. Alvin tatap mata Via. Sepertinya Alvin mulai ada perasaan sama Via.
Via menutup matanya. Alvin tersenyum kecil lalu mengambil sebutir nasi di dagu Via. “Kalo habis makan, periksa muka kamu ya”
Pipi Via memerah. Malu banget !
////////////////////////////// ////////////////
“Apa yang lo lakuin ke Via kemarin ?” Ify sengaja minta ketemuan sama Alvin lagi. Ia dengar dari Via kalo Via tidur di rumah Alvin. Via bilang ngga ada apa-apa tapi Ify masih curiga.
“Gue ngga ngapa-ngapain sama dia”
“Jangan boong lo”
“Gue ngga boong !”
“Masih ada niat nyakitin Via ?”
Alvin menggedikkan bahunya.
“Via itu cewek baik-baik Vin, jangan lo ngerusak dia, gue tau lo emang punya dendam sendiri sama Via, tapi gue yakin, lo sayang kan sama dia ?”
Alvin menatap Ify. “Ngga usah sok tau lo”
“Terserah elo Vin”
“Kenapa lo ngga bilang ke Via tentang dendam gue ?”
Ify terdiam sebentar. “Gue yakin lo ngga akan nyakitin dia, karna gue tau, lo sayang sama dia”
“Gue bilang ngga usah sok tau”
“Vin, kalo lo emang ngga sayang, kenapa ngga lo lakuin aja niat lo kemaren pas Via seharian di rumah lo ? Gue yakin, lo ngga tega kan ? Karna lo sayang Vin”
“Argh udah Fy, gue balik” Alvin tampak ngga mau dengerin kata kata Ify meskipun perkataan Ify ada benarnya.
////////////////////////////// ///////////////////
Sikap Alvin berubah. Dia sering menghindar dari Via.
“Vin” panggil Via pelan saat melihat Alvin lagi ngopi sendirian di kantin. Alvin menoleh sebentar lalu mengaduk aduk capucinnonya lagi.
Via duduk di hadapan Alvin.
“Vin”
“Hmm”
“Nanti, pulang bareng kan ?”
“Mmmm maaf Vi, aku ada urusan”
“Urusan apa lagi sih Vin ? Udah sminggu kita ngga pulang bareng”
“Sorry Vi tapi gue….”
“Vin, aku ngerasa beda sama kamu sekarang”
Alvin terdiam, membiarkan Via melanjutkan kata katanya. “Kamu jauh Vin, kamu ngga pernah nyapa aku lagi, kamu… kamu menghindar dari aku Vin, kenapa ?”
Alvin menatapi cangkirnya. Termenung. Dia emang mau ngejauhin Via, takut kalo dia deket malah ada keinginan buat kembali nyakitin Via.
“Vin, jawab pertanyaan aku” Via meraih tangan Alvin tapi langsung ditepis. Via sendiri terkejut dengan apa yang barusan dilakuin Alvin.
“Maaf Vi” Alvin mengangkat kepalanya.
“Aku ngga bisa nerusin hubungan ini” lanjutnya.
“Apa ?”
“Maaf Vi, banyak cowok yang lebih dari aku, yang lebih bisa ngjaga kamu, buat kamu nyaman dan yang terpenting, dia ngga akan nyakitin kamu”
Via menunduk. “Tapi kenapa ?”
“Aku ngga pantes buat kamu”
“Kata siapa ? Aku nyaman ada di samping kamu Vin”
“Maaf Vi, aku ngga bisa” Alvin bangkit dan pergi. Via diam di tempat, terisak sendiri. Ify melihatnya. Ia segera menghampiri Via.
“Vi” Ify mengusap bahu Via.
“Fy, salah gue apa sampe Alvin mutusin gue ?”
“Lo ngga salah”
“Gue udah sayang banget sama Alvin Fy”
“mungkin ada alasan tersendiri dia ngelakuin itu”
Via terus menangis di bahu Ify.
Pulang sekolah, setelah mengantar Via pulang, Ify mengajak Alvin ketemuan lagi.
“Mau bahas apa lagi ?” tanya Alvin malas.
“Kenapa lo putusin Via ?”
“Lo ngga mau gue nyakitin dia kan ?”
“Bukan kayak gini caranya, lo Cuma butuh ubah sikap lo dan hilangin niatan lo dulu”
Alvin terdiam.
“Vin, Via itu udah cinta mati sama lo, dari tadi dia nangis terus, gara gara lo, kurang baik apa sih dia sama lo Vin ?”
Alvin tetap diam.
“gue harap lo pikirin lagi perasaan lo sekarang ke Via, sebelum hatinya diisi orang lain”
Kini, Ify yang lebih dulu meninggalkan Alvin.
Apa iya gue sayang sama Via ? Argh ! Alvin mengacak rambutnya lalu bergegas pulang.
////////////////////////////// //////////////
Seharian, Via mengurung dirinya di kamar, bahkan Ify pun ngga dibolehin masuk.
Via udah sayang banget sama Alvin. Sehari tanpa Alvin, hampa. Apa yang harus gue lakuin biar Alvin balik ke gue ??? pikir Via sambil membenamkan wajahnya di bantal, menangis.
Sementara itu, Alvin kembali berpikir keras.
“Lo sayang sama Via, ambil dia, jaga dia, gue percaya sama lo” suara Iel lagi. Alvin terbangun dari tidur malamnya. Apa ia harus mendengarkan ucapan Iel ? Apa itu Iel ?
////////////////////////////// ////////////////
Suatu hari. Pulang sekolah, Via buru buru menuju parkiran. Ia hampiri Alvin yang baru memakai leather jaketnya.
“Vin”
“Hmm” Alvin cuek.
“Vin, liat aku !”
“Ngomong aja sih Vi” Alvin menaiki ninjanya, ia membelakangi Via.
Via nyerah, kini ia sampaikan maksudnya. “vin, kalo misalnya kamu masih sayang sama aku, temuin aku di NERO street setelah ini mmmmm kalo ngga, ngga usah dengerin kata kata aku barusan”
Alvin menoleh, Via sudah pergi. Apa yang dimaksud Via ?
Alvin gedikkan bahunya.
“heh ! Susul Via sekarang !” Ify datang tiba tiba dan langsung memukul bahu Alvin.
“Buat apa ?”
“Lo masih sayang kan sama dia ? Cepet susul sebelum terjadi apa apa”
Alvin memasang wajah heran.
“Bego ! Lo ngga tau NERO street ?!”
Alvin menggeleng.
“Itu tempat paling nakutin, banyak cowok brandal, preman, ngga ada cewek yang berani ke sana, semua cowok di sana brengsek Vin !!!” Ify geregetan menjelaskannya ke Alvin.
Alvin membulatkan matanya. “Buruan susul kalo lo masih sayang sama Via !!! Lo ngga mau Via kenap……….” Sebelum Ify menyelesaikan ucapannya, Alvin udah keburu ngegas motornya.
“Bego lo Viiiin !!! Lo kan ngga tau tempatnya !” seru Ify tapi Alvin udah jauh, ngga mungkin kedenger. Ify meng sms kan letak NERO street ke Alvin.
Bener aja, Alvin baru nyadar pas Ify meng smsnya.
////////////////////////////// //////////////
Via gemetar. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia hela nafasnya lalu dengan berani duduk di sebuah bangku. Berpasang pasang mata cowok menatapnya.
“Hei manis” dua orang cowok menghampiri Via. Dua duanya serem.
Via mencoba cuek.
“Lagi nunggu siapa nih di sini ?” keduanya mengapit Via. Jantung Via berdegup kencang. Vin, tolongin gue. Seru hatinya. Via ingin sekali menangis. Bego banget ya dia pake cara kayak gini. Kalo Alvin ngga dateng kan bahaya !
“Kok ngga jawab sih “ Salah satu cowok mencoba menyentuh wajah Via tapi ditepis oleh Via. Cowok itu geram. “Jual mahal banget sih lo !” Cowok itu memegangi wajah Via. Via bangkit, mencoba pergi.
“Wei wei wei mau ke mana ? Yang udah masuk wilayah ini, ngga segampang itu bisa keluar lagi” Cowok itu menarik lengan Via.
“Lepasiiiin” Via mencoba berontak. Cowok yang satu lagi memegang wajah Via, membuat Via sulit bicara.
“Mau minta tolong ke siapa sayang ??” kata cowok itu.
Alvin, please dateng Vin, gue takut.
BUKKKK BUKKK ! Hantaman keras. Alvin datang !
“Jangan macem macem sama cewek gue !”
Kedua cowok itu tersungkur. “Sialan lo, ngajak berantem”
“Lawan gue !” tantang Alvin.
Kedua cowok itu merasa tertantang. Mereka bangkit dan menghadapi Alvin.
Alvin mengeluarkan mawashinya, tepat mengenai punggung dan pipi cowok cowok itu. “Baru segitu keok lo !” Alvin tersenyum remeh. Untung dia sempet ikut karate sampe sabuk cokelat.
“Ayo !” Alvin meraih tangan Via, membawanya lari kearah motor Alvin.
“Cepet naik”
Via menuruti seluruh perkataan Alvin. Ia tersenyum, kini Via yakin, Alvin masih sayang sama dia.
Di perjalanan, mereka diam.
Alvin membawa Via ke taman dekat sekolah.
Alvin tak berkata apa apa, ia turun dari motor lalu duduk di sebuah bangku. Wajahnya merah kesal.
Via menghampirinya. “Thanks Vin”
Alvin menatap Via tajam. Ia berdiri. “Gila kamu Vi ! Ngapain sih berbuat hal bodoh kayak tadi ? Ngebahayain diri banget ! Bikin khawatir kamu Vi ! Kalo seandainya tadi aku ngga dateng, mau jadi apa……..”
Ucapan Alvin terhenti, Via tiba tiba memeluknya.
“Maafin aku Vin, aku emang bodoh tadi”
Alvin melepaskan pelukan Via.
“Lain kali, jangan kayak tadi lagi, mmm soal tadi gue ngakuin lo jadi cewek gue, lupain a…”
Belum Alvin selesai bicara, Via kembali memeluknya.
“Jawab jujur Vin, kamu masih sayang sama aku kan ?”
Alvin terdiam. Lalu ia kembali melepaskan pelukan Via. Kemudian duduk lagi.
Via ikut duduk di sampingnya.
“vin”
“jawab aku Vin”
Alvin menatap wajah Via. “Kamu ngga marah sama aku ?”
“Marah kenapa ?”
“Selama ini, aku punya niat jahat sama kamu Vi”
“Niat jahat ?”
“ayo ikut aku”
Via mngikuti Alvin. Alvin membawanya ke makam Iel.
“Kamu kenal ?” tanya Alvin sambil mengusap nisan makam Iel.
Via tampak shock. “Kak Kak Kak Iel, kakamu ada hubungan apa Vin ?”
“Iel, kakak aku Vi”
“kakak ?”
“dua bulan lalu, dia meninggal, karna kamu”
Via membulatkan matanya.
“dia kecewa berat kamu nolak dia, iel naksir kamu semenjak SMP, makanya itu, dia bener bener kecewa, iel orangnya nekat, dia bawa motornya ngebut hari itu dan yah inilah akibatnya”
Air mata Via menetes. Ia ngga nyangka sikapnya dulu bisa membuat Iel seperti ini.
“Orang tua aku udah meninggal, aku tinggal berdua sama Iel, tapi, sekarang Iel juga udah ngga ada, aku hidup sendiri, mengandalkan warisan papah, dulu, aku juga sempet kecewa berat sama kamu, aku dendam sama kamu Vi, dan aku punya niat jahat buat ngehancurin kamu” jelas Alvin sambil menatapi nisan Iel.
Via terkejut. “Jadi ? Selama ini kamu ??”
“Ya, aku deketin kamu buat ngehancurin kamu, tapi aku ngga tega, mungkin, aku udah mulai sayang sama kamu, maafin aku Vi, aku tau, setelah mendengar pengakuan ini, kamu bakal ninggalin aku, jauh”
Via menatap Alvin nanar.
“Aku ngga akan bisa jauh dari kamu Vin, aku sayang sama kamu, justru, aku yang salah buat kamu menderita”
Alvin menatap Via. Ia hapus air mata Via. “Iel datang ke mimpi aku, dia bilang, aku harus jagain kamu, karna aku sayang sama kamu”
Keduanya tersenyum.
“gue janji di depan lo Bang, gue bakal jaga Via”
Alvin memalingkan wajahnya lagi kearah Via, “aku juga ngga akan sakitin kamu lagi Vi, aku bakal jaga kamu”
“Thanks Vin” Alvin mendengar seseorang berbisik di telinganya, atau hanya hembusan angin ? tapi ia tau, itu Iel.
“Maaf ya” Via lagi lagi meminta maaf. Ia tak enak hati menolak mantan kakak kelasnya ini. Tapi bagaimanapun, Via memang belum siap berpacaran, meskipun siap, Via ngga akan memilih Iel.
Perlahan Iel mengangkat kepalanya. “Oke Vi, gue duluan ya” pamitnya. Via ngga tega juga sih. Mana kata Ify, sahabat Via, iel ini orangnya gampang emosi. Sekali keinginannya ngga terpenuhi, gawat deh. Via sempet ketakutan juga sih, semoga Iel ngga melakuakn hal bodoh karna hal yang satu ini.
Namun dugaan Via salah besar, iel kecewa Via menolaknya. Iel susah jatuh cinta dan sekalinya jatuh, Iel ngga bisa keluar.
“Udahlah Bang, cewek kan masih banyak” ujar Alvin, adik Iel yang beda setahun dengannya.
“Vin, gue cinta mati sama Via Vin, gue ngga terima” ucap Iel dengan nada yang memprihatinkan. Ia bangkit lalu mengambil helmnya. Alvin mengikutinya smpe depan rumah. “Mau ke mana lo Bang ?”
“Lo ngga perlu tau Vin, gue butuh ketenangan”
Alvin panic tapi dia ngga bisa melakukan apa-apa. Abangnya ini terlalu nekat. Alvin hanya berharap Iel kembali ke rumah nanti malam.
Alvin menanti, menanti dan menanti Iel datang. Tapi, udah jam Sembilan maalam, Iel belum datang. Tentu Alvin khawatir.
TING TONG.. bel rumah Alvin.
Alvin menuju pintu dnegan cepat. “Bang” ucapnya saat membuka pintu tapi ia salah, yang datang malah dua orang polisi. “Kenapa ya Pak ?”
Alvin shock berat ! Iel kecelakaan dan ngga terselamatkan. Motornya masuk jurang akibat terlalu kencang mengemudi. Alvin menyesali ini. Kenapa harus gara gara seorang cewek, abangnya bisa kayak gini ?
//////////////////////////////
Alvin menutup wajah dengan tangannya. Masih dengan pakaian serba hitam. Kini ia sendiri. Terakhir kali ia berpakaian serba hitam seperti ini, saat kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan pesawat. Saat itu, Alvin hanya berdua dengan Iel. Dans ekarang ? Alvin hanya sendiri.
Tangan Alvin mengepal. Ia berjalan cepat menuju kamar abangnya. Foto foto gadis itu tertempel di dinding kamar abangnya. Alvin mendekati salah satu dari foto gadis yang tak lain adalah Via. Jadi ini cewek yang udah bikin lo gila ? Sesakit itukah ? benak Alvin. Alvin mendekati meja milik iel. Ada sebuah buku catatan kecil dengan cover ditempeli foto Via. Alvin buka perlahan.
Di dalam buku itu terdapat lengkap informasi tentang Via. Sekolahnya, hobi, makanan kesukaan, minuman kesukaan, dan banyak lainnya. Via, memang cantik, manis, tapi apa pantas Iel berbuat bodoh seperti itu hanya karna ditolak gadis ini ?.
Alvin mengingat ingat. Iel emang begitu. Kalo keinginannya ditolak, dia akn marah, emosinya ngga terkendali.
BRAK. Alvin menggebrakmeja Iel. ‘Gue bakal balas dendam Bang’ tekadnya. Gue harus ngancurin cewek ini kayak dia ngancurin lo, ngga akan ada yang bisa milikin dia Bang. Dan ngga akan ada yang mau !
//////////////////////////////
“Maaf” Via memunguti buku bukunya yang barusan jatuh.
“gue yang harusnya minta maaf, sorry ya” suara cowok. Via mendongak. Ya Tuhan, Via terpesona sama cowok ini. Cowok itu membantu memunguti buku Via.
“Lo anak baru ya ?” tanya Via dan cowok itu mengangguk.
“Alvin” cowok itu mengulurkan tangannya. Via menerima uluran tangan itu, “Oh, mm Sivia, panggil Via”.
Via lebih cantik daripada yang di foto. Batin Alvin.
Alvin tersenyum, membuat Via ikut tersenyum.
“Oh iya, mau ke mana Vi ?” tanya Alvin basa basi.
“Ke perpus”
“Gue bantu ya” Alvin mengambil beberapa buku dari tangan Via. “Oh iya”
//////////////////////////////
“Lo pindahan dari mana ? Kelas ?”
“Dari 88, gue kelas dua belas ipa 3”
“Oh, gue kelas ipa 1”
Keduanya diam.
“Mmm Vin, gue duluan ya, Bye” pamit Via ketika sampai di depan kelasnya.
“Bye” Alvin memberikan senyum perpisahan yang sangat manis dan coooool. Membuat Via benar-benar melting.
“Cie, siapa Vi ?” tanya Ify melihat Via berbinar binar.
“Anak baru Fy, cakep ya ?”
Ify mengangguk ngangguk.
//////////////////////////////
“Hei Vi, mau pulang bareng ?” Alvin menghampiri Via yang sedang duduk di halte.
“Oh, emang rumah lo dimana ?”
“Udah yuk bareng aja”
“Ngga apa apa nih ?”
“Iya ngga apa-apa, ayo”
“Thx ya” Via menaiki Ninja Alvin.
NGEEEEEENGGGG. Alvin sangat ngebut bawa motornya sampe mau ngga mau Via harus pegangan ke pinggang Alvin.
“Thx ya Vin” ucap Via setelah sampe di depan rumahnya.
“Samaa sama Vi, besok besok, pulang bareng gue aja ya”
“hah ?” Via terkejut mendengar tawaran Alvin.
“Gue seneng kok Vi nganterin lo”
Ucapan Alvin yang satu itu membuat jantung Via bekerja lebih ekstra. Via mengangguk tersipu. Lagi lagi Alvin memberinya senyuman. “Gue duluan ya Vi”.
//////////////////////////////
Ya tuhan, gue jatuh cinta sama Alvin ? Padahal baru hari ini kita ketemu. Pikir Via.
Rencana kita mulai berjalan. Batin Alvin smbil memegangi foto Iel.
//////////////////////////////
Sudah seminggu ini, Alvin dan Via dekat. Dekat sekali. Ify sampe sebel dicuekkin mulu sama Via. Setiap istirahat, Via ke kantinnya sama Alvin. Ke perpus juga gitu.
Sampe suatu hari,
“Vi, kita nonton yuk” ajak Alvin. Via dengan semangat mengangguk.
Alvin membawa Via ke sebuah mini room theater yang bisa dinikmati untuk berdua.
“Ngga apa apa kan ?” tanya Alvin. Via sebenrnya agak berat juga mengatakan tidak. Via curiga aja gitu. Ah tapi, Via yakin Alvin anak baik.
Sebuah film romantic diputar. Alvin menikmati popcornnya sementar Via berusha menghapuskan kecurigaannya.
Sudah setengah jam film diputar. Via sudah mulai masuk ke dalam film itu, ia sudahtidak memikirkan kecurigaannya lagi.
Alvin mencuri pandang kearah Via sambil tersenyum licik. Ia angkat tangannya dan merangkul Via. Via agak tersentak. Pasalnya, Via ngga suka disentuh sentuh.
“Aduh, apaan sih Vin” Via bangkit namun tangannya segera diraih Alvin. Alvin berjalan pelan mendekati Via lalu memeluknya pinggangnya.
“Vin, lepasin Vin” ucap Via pelan. Ia berusaha melepas tangan Alvin dari pinggangnya.
“Kenapa ?” tanya Alvin. Ia taruh kepalanya di atas bahu Via.
“Gue ngga suka” Via mulai berontak.
“Ngga suka ?” Pelukan Alvin malah semakin erat. “Sekarang ? Masih ngga suka ?”
Via ngga sanggup berkata apa-apa. Mulutnya terkunci.
Tangan kanan Alvin membelai rambut Via lalu meletakannya ke belakang telinga Via smpai telinga Via terlihat jelas. “Sivia” ucapnya lembut. Via menelan ludahnya, dia benar benar kehabisan kata kata.
“Aku suka sama kamu Vi, Aku mau kamu jadi milik aku, kamu mau kan… Sivia” pinta Alvin lembut. Kini tangan kanannya menyentuh wajah Via, mengikuti liuk bentuk wajah Via.
Via menghela nafasnya. “Viin” ia berusaha melepaskan tubuhnya lagi tapi pelukan Alvin semakin semakin erat. “Ayolah Vi, aku bener bener sayang sama kamu, kamu mau kan ? Aku ngga akan lepasin kamu Vi sebelum kamu mau, mau jadi milik aku, ya ?”
Alvin melepaskan pelukannya, ia memposisikan dirinya di depan Via. “Liat mata aku Vi, aku ngga bohong kan ?” Via tatap mata Alvin. Tatapan mata Alvin begitu lembut. Via seperti terhipnotis dengan tatapan itu. “Aku tau, kamu juga suka kan sama aku” Alvin mengitari Via lalu brhenti di belakangnya. Kembali memeluk Via seperti tadi.
“Inget, aku ngga akan lepasin kamu sebelum kamu mau terima aku Vi”
Ucapan ucapan Alvin terdengar begitu lembut di telinga Via.
“Mau kan ?” tanya Alvin sekali lagi.
Sangat perlahan, Via menganggukan kepalanya. Hatinya masih ragu tapi sesungguhnya, ia memang menyukai Alvin.
Alvin tersenyum. “Makasih sayang” ucapnya. Ia lepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan Via, mereka kembali duduk, menikmati film yang ada.
Entah kenapa, Via merasa nyaman tangannya berada di genggaman tangan Alvin.
“Kamu ngga usah takut ya sama aku Vi” ucap Alvin sembari mendorong kepala Via ke bahunya. Via mengangguk. Nyaman.
Alvin tesenyum puas. Dapet ! serunya dalam hati.
//////////////////////////////
“Yaelah, selamat deh kalian udah jadian !! Peje dong ya” kata Ify. Kebetulan mereka lagi ada di kantin. Sekalian minta pajak.
“Ambil makanan sepuas lo, gue yang bayar” ucap Alvin.
“Thanks Vin !” Ify langsung ngabrit ke kantin Bu Retno.
“Sayang” ucap Alvin manja sambil memeluk Via. Via yang baru menyeruput jus jeruknya langsung kaget dan tersedak. “Uhuk, Vin, ini kantin”
“Nggapapa dong Vi, sini aku suapin kamu roti ya” tangan kanan Alvin menyuapi Via sesobek roti dengan tangan kiri berada di pinggang Via.
Ify kmbali dengan wajah heran. Mau maunya via dipeluk sama Alvin, biasanya kan dia paling anti dipegang cowok. Batin Ify.
“Ehem, Vin, kayaknya ini tempat terlalu umum deh”
“Sirik aja lo Fy” ucap Alvin. Alvin tak melepaskan pegangannya. Ify menatap Via tajam, Via tersenyum kecil.
//////////////////////////////
Begitulah setiap hari, Alvin dan Via sngat dekat, kayak susah banget dipisah. Ify Cuma geleng kepala aja. Si Alvin ngasih apa sih sampe Via ngga berkutik gitu.
Via nyaman nyaman aja sama Alvin. Alvin melindungi dirinya. Setiap dia digangguin, Alvin selalu menjaganya. Seperti waktu Via diganggu preman deket halte.
“Eh lo, jangan ganggu ganggu cewek gue” Via sembunyi di balik tubuh Alvin. Alvin adalah sang pahlawan baginya.
Alvin juga selalu bersikap manis padanya.
//////////////////////////////
Ify benar benar curiga, makinhari, Alvin Via makin lengket aja. Via juga keliatannya seneng seneng aja dipegang Alvin.
Suatu hari, Alvin ijin ke Via mau pergi jadi ngga bisa pulang bareng. Inilah saatnya Ify nguntitin Alvin ,menyelidiki asal usul cowok Via.
Eh tapi kok Alvin malah pergi ke pemakaman.
Ify mengawasi Alvin dari jauh.
“bang, dendam lo bentar lagi bakal terlaksana, cewek itu bakal ancur !” ucap Alvin. Setelah Alvin pergi. Ify mendekati makam itu, melihat siapa yang diziarahi Alvin. Dan Ify kaget bukan main. “Kak Iel ?!”
Ify semakin penasaran. Iel meninggal ? Karena ? Terus, Alvin siapanya Iel ? Kenapa tiba tiba dia masukin hidup Via ? Apa ada hubungannya sama Iel ?
Ify meng sms Alvin untuk bertemu dengannya sore ini di café Teens. Alvin datang.
“Ada apa Fy ? tumben”
Wajah Ify serius. “Jujur, ada hubungan apa lo sama Kak Iel ?”
Alvin terkejut mendenga pertanyaan Ify. Ia terdiam.
“jawab Vin !”
“Dia abang gue”
Ify shock. Jadi ?
“Dia meninggal dua bulan lalu karena kecelakaan, dia emosi waktu cewek yang sangat dia cintain nolak dia”
Ify mulai menemui titik permasalahn. Iel kaka Alvin. Iel meninggal dua bulan lalu. Waktu dimana Via nolak Iel. Dan tadi Alvin bilang Iel kayak gitu karna ditolak cewek.
“Jadi, maksud lo ? Lo mau bales dendam sama Via ?”
Alvin tertawa remeh. “Bukan urusan lo”
“Vin, please Vin, jangan lo sakitin Via”
“Kenapa dia juga harus sakitin abang gue ?”
“Vin, Via itu masih polos, lugu, dia ngga pernah pacaran sama sekali, lo orang pertama, dia nolak Kak Iel karna dia emang belum siap pacaran”
“Terus ? Kenapa dia mau sama gue ?”
“Karna dia suka sama lo ! Dia ngga suka sama Kak Iel, Vin, gimana pun, Via ngga mungkin jadiin Kak Iel cowoknya kalo emang dia ngga suka”
“Oh ya ? Dan akibatnya sefatal ini ?”
“Vin, Via juga ngga tau akibatnya sampe begini”
“Ah udahlah” Alvin bangkit, menginggalkan Ify.
“Vin, dengerin kata kata gue barusan”
Alvin tak menggubrisnya meskipun ia mendengar dengan baik apa yang dikatakan Ify.
//////////////////////////////
“Vin, jangan lo sakitin Sivia, gue sayang sama dia, gue pergi karena emang udah takdir, gue mohon Vin, jaga dia”
Alvin terbangun dari tidurnya. Ia tampak begitu gelisah. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya, deras. Suara Iel muncul dalam mimpinya. Alvin menggelengkan kepalanya. “Ngga”
//////////////////////////////
Kini, Alvin selalu memandang Ify sengit. Ify sendiri belum memberitahukan hal itu kepada Via.
“Vi, pulang sekolah, ke rumah aku yuk” ajak Alvin.
“Hah ? Ngapain Vin ?”
“Ya maen aja, nonton film, karokean, atau apalah, ayolah Vi”
Via mengangguk. Ia tak bisa menolak permintaan Alvin.
Sepulang sekolah, Alvin membonceng Via. Di tengah jalan, hujan deras. Sesampainya di rumah Alvin, mereka basah kuyup.
“Loh Vin, rumah kamu sepi”
“Iya, lagi pada pergi”
KLIKKK.. Alvin mengunci pintu. Via kaget. “Vin kok dikunci”
“Hujan, dingin”
“Kan ngga usah dikunci”
“Suka banyak maling say, udah ayo duduk dulu di ruang TV”
Alvin menggenggam tangan Via lalu membawanya menuju ruang TV.
Mereka berdua duduk di sofa. Alvin menatap Via dengan tatapan maut, sangat lembut. Tangan kirinya tak lepas dari tangan Via. Sedangkan tangan kanannya memegangi dagu Via. “Kamu manis Vi, Cantik”
Via tersenyum malu.
Wajah Alvin mendekat. Via menutup matanya. STOP ! keduanya hanya berjarak satu centi sekarang. Alvin menatapi wajah Via, apa pantas ?
CUP.. sebuah ciuman mendarat di pipi Via. Agak berubah dari apa yang direncanakan Alvin sebelumnya. Entah kenapa Alvin ngga tega.
Via membuka matanya. “Vin”
“ya ?”
“Kamu sayang sama aku ?”
Alvin menelan ludahnya. Dia ngga tau dengan perasaannya sendiri. Akhirnya ia mengangguk sambil tersneyum. “Aku sayang sama kamu Vi”
“Aku juga” Alvin kaget, Via memeluknya.
“Kamu janji ya ngga akan tinggalin aku, ngga akan nyakitin aku” kata Via. Alvin mngangguk. Nyakitin ? Alvin teringat Iel. Ia harus melaksanakan dendamnya.
“Sayang, kamu mau minum ? Aku bikinin teh anget ya” tawar Alvin. Via tersenyum.
Alvin berjalan menuju dapur. Ia aduk secangkir teh anget untuk Via yang sebelumnya sudah ia campur dengan obat tidur.
“Nih Vi, minum, abisin ya”
Via menerimanya, glek glek glek, ia meminumnya habis. “Makasih Vin”
Alvin memutar sebuah film. Mereka menonton berdua. Berkali kali Alvin mencuri pandang ke Via tapi belum ada tanda tanda.
“Hoahmm, aduh Vin, kok aku ngantuk gini ya”
Alvin tersenyum puas, “dingin sih Vi”
“Iya hmmm” Via menyenderkan kepalanya di bahu Alvin. Alvin kibaskan tangannya di depan wajah Via lalu tersenyum licik.
Ia angkat Via dan mmbawanya ke dalam kamar. Diletakkannya tubuh Via di atas kasur.
ia dekatkan wajahnya ke wajah Via. Alvin menelan ludah. Wajah Via benar benar polos. Apa harus ia melakukan hal seperti ini kepada gadis sepolos Via ?
Aaaaaargghhh !!! Gue ngga bisa !! jerit hati Alvin. Alvin ngga tega. Suara Iel dan perkataan Ify terputar di dalam otaknya. Alvin kembali menatap wajah Via. Lekat. Ia kecup lembut kening Via. Gue ngga bisa nyakitin lo Vi.
Alvin bangkit lalu menyelimuti Via.
//////////////////////////////
Kepala Via pening. Matanya terlalu lengket untuk dibuka.
Perlahan ia sadar. Dan ia kaget mendapati dirinya ada di kamar cowok. Ia tampak panic. Ia periksa badannya, syukurlah, seragamnya masih utuh. Ia bangun dan mncari seseorang.
“Vin, Alvin”
“Vi, aku di sini” seru Alvin dari dapur. Alvin sudah berganti pakaian.
“Vin, ini jam berapa ?”
“jam tujuh pagi”
“Apa ? Aku aku aku ti ti tidur di sini ?”
Alvin mengangguk sambil mengaduk teh hangat.
“Iya, nih minum dulu”
Via terdiam. Semalam dia ada di kamar Alvin.
“Vin” panggil Via pelan.
“ya ?”
“kamu, kamu engga..mm aku tidur sendiri kan ?”
Alvin tersenyum kecil. Membuat via curiga. “jawab Vin”
“Kamu ketiduran, aku ngga tega bangunin kamu, aku tidur di depan TV kok”
Via bernafas lega.
“Kamu ngga ngapa-ngapain kan ?”
“Ngga lah, tenang Vi, ngga ada kejadian apa pun tadi malem, sekarang, kamu mandi, ganti baju punya mamah aku, makan, terus nanti aku anterin pulang ya”
Via mengangguk.
Ia menuruti apa kata Alvin tadi.
Setelah makan.
“Ayo aku anterin pulang”
“Vin”
“Hm ?”
“Ngga usah, aku pulang sendiri aja”
“Aku yang bawa kamu ke sini, aku juga yang harus anterin kamu pulang”
“Jangan Vin, aku ngga mau Mamah aku nuduh kamu macem macem”
“tapi Vi”
“Jangan ya Vin”
Baik banget lo Vi. Benak Alvin.
Alvin tersenyum, “Ya udah, aku panggilin taksi ya”
Via mengangguk.
“Itu Vi taksinya di depan”
“Makasih ya Vin”
“vi” Alvin menarik lengan Via. Alvin tatap mata Via. Sepertinya Alvin mulai ada perasaan sama Via.
Via menutup matanya. Alvin tersenyum kecil lalu mengambil sebutir nasi di dagu Via. “Kalo habis makan, periksa muka kamu ya”
Pipi Via memerah. Malu banget !
//////////////////////////////
“Apa yang lo lakuin ke Via kemarin ?” Ify sengaja minta ketemuan sama Alvin lagi. Ia dengar dari Via kalo Via tidur di rumah Alvin. Via bilang ngga ada apa-apa tapi Ify masih curiga.
“Gue ngga ngapa-ngapain sama dia”
“Jangan boong lo”
“Gue ngga boong !”
“Masih ada niat nyakitin Via ?”
Alvin menggedikkan bahunya.
“Via itu cewek baik-baik Vin, jangan lo ngerusak dia, gue tau lo emang punya dendam sendiri sama Via, tapi gue yakin, lo sayang kan sama dia ?”
Alvin menatap Ify. “Ngga usah sok tau lo”
“Terserah elo Vin”
“Kenapa lo ngga bilang ke Via tentang dendam gue ?”
Ify terdiam sebentar. “Gue yakin lo ngga akan nyakitin dia, karna gue tau, lo sayang sama dia”
“Gue bilang ngga usah sok tau”
“Vin, kalo lo emang ngga sayang, kenapa ngga lo lakuin aja niat lo kemaren pas Via seharian di rumah lo ? Gue yakin, lo ngga tega kan ? Karna lo sayang Vin”
“Argh udah Fy, gue balik” Alvin tampak ngga mau dengerin kata kata Ify meskipun perkataan Ify ada benarnya.
//////////////////////////////
Sikap Alvin berubah. Dia sering menghindar dari Via.
“Vin” panggil Via pelan saat melihat Alvin lagi ngopi sendirian di kantin. Alvin menoleh sebentar lalu mengaduk aduk capucinnonya lagi.
Via duduk di hadapan Alvin.
“Vin”
“Hmm”
“Nanti, pulang bareng kan ?”
“Mmmm maaf Vi, aku ada urusan”
“Urusan apa lagi sih Vin ? Udah sminggu kita ngga pulang bareng”
“Sorry Vi tapi gue….”
“Vin, aku ngerasa beda sama kamu sekarang”
Alvin terdiam, membiarkan Via melanjutkan kata katanya. “Kamu jauh Vin, kamu ngga pernah nyapa aku lagi, kamu… kamu menghindar dari aku Vin, kenapa ?”
Alvin menatapi cangkirnya. Termenung. Dia emang mau ngejauhin Via, takut kalo dia deket malah ada keinginan buat kembali nyakitin Via.
“Vin, jawab pertanyaan aku” Via meraih tangan Alvin tapi langsung ditepis. Via sendiri terkejut dengan apa yang barusan dilakuin Alvin.
“Maaf Vi” Alvin mengangkat kepalanya.
“Aku ngga bisa nerusin hubungan ini” lanjutnya.
“Apa ?”
“Maaf Vi, banyak cowok yang lebih dari aku, yang lebih bisa ngjaga kamu, buat kamu nyaman dan yang terpenting, dia ngga akan nyakitin kamu”
Via menunduk. “Tapi kenapa ?”
“Aku ngga pantes buat kamu”
“Kata siapa ? Aku nyaman ada di samping kamu Vin”
“Maaf Vi, aku ngga bisa” Alvin bangkit dan pergi. Via diam di tempat, terisak sendiri. Ify melihatnya. Ia segera menghampiri Via.
“Vi” Ify mengusap bahu Via.
“Fy, salah gue apa sampe Alvin mutusin gue ?”
“Lo ngga salah”
“Gue udah sayang banget sama Alvin Fy”
“mungkin ada alasan tersendiri dia ngelakuin itu”
Via terus menangis di bahu Ify.
Pulang sekolah, setelah mengantar Via pulang, Ify mengajak Alvin ketemuan lagi.
“Mau bahas apa lagi ?” tanya Alvin malas.
“Kenapa lo putusin Via ?”
“Lo ngga mau gue nyakitin dia kan ?”
“Bukan kayak gini caranya, lo Cuma butuh ubah sikap lo dan hilangin niatan lo dulu”
Alvin terdiam.
“Vin, Via itu udah cinta mati sama lo, dari tadi dia nangis terus, gara gara lo, kurang baik apa sih dia sama lo Vin ?”
Alvin tetap diam.
“gue harap lo pikirin lagi perasaan lo sekarang ke Via, sebelum hatinya diisi orang lain”
Kini, Ify yang lebih dulu meninggalkan Alvin.
Apa iya gue sayang sama Via ? Argh ! Alvin mengacak rambutnya lalu bergegas pulang.
//////////////////////////////
Seharian, Via mengurung dirinya di kamar, bahkan Ify pun ngga dibolehin masuk.
Via udah sayang banget sama Alvin. Sehari tanpa Alvin, hampa. Apa yang harus gue lakuin biar Alvin balik ke gue ??? pikir Via sambil membenamkan wajahnya di bantal, menangis.
Sementara itu, Alvin kembali berpikir keras.
“Lo sayang sama Via, ambil dia, jaga dia, gue percaya sama lo” suara Iel lagi. Alvin terbangun dari tidur malamnya. Apa ia harus mendengarkan ucapan Iel ? Apa itu Iel ?
//////////////////////////////
Suatu hari. Pulang sekolah, Via buru buru menuju parkiran. Ia hampiri Alvin yang baru memakai leather jaketnya.
“Vin”
“Hmm” Alvin cuek.
“Vin, liat aku !”
“Ngomong aja sih Vi” Alvin menaiki ninjanya, ia membelakangi Via.
Via nyerah, kini ia sampaikan maksudnya. “vin, kalo misalnya kamu masih sayang sama aku, temuin aku di NERO street setelah ini mmmmm kalo ngga, ngga usah dengerin kata kata aku barusan”
Alvin menoleh, Via sudah pergi. Apa yang dimaksud Via ?
Alvin gedikkan bahunya.
“heh ! Susul Via sekarang !” Ify datang tiba tiba dan langsung memukul bahu Alvin.
“Buat apa ?”
“Lo masih sayang kan sama dia ? Cepet susul sebelum terjadi apa apa”
Alvin memasang wajah heran.
“Bego ! Lo ngga tau NERO street ?!”
Alvin menggeleng.
“Itu tempat paling nakutin, banyak cowok brandal, preman, ngga ada cewek yang berani ke sana, semua cowok di sana brengsek Vin !!!” Ify geregetan menjelaskannya ke Alvin.
Alvin membulatkan matanya. “Buruan susul kalo lo masih sayang sama Via !!! Lo ngga mau Via kenap……….” Sebelum Ify menyelesaikan ucapannya, Alvin udah keburu ngegas motornya.
“Bego lo Viiiin !!! Lo kan ngga tau tempatnya !” seru Ify tapi Alvin udah jauh, ngga mungkin kedenger. Ify meng sms kan letak NERO street ke Alvin.
Bener aja, Alvin baru nyadar pas Ify meng smsnya.
//////////////////////////////
Via gemetar. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia hela nafasnya lalu dengan berani duduk di sebuah bangku. Berpasang pasang mata cowok menatapnya.
“Hei manis” dua orang cowok menghampiri Via. Dua duanya serem.
Via mencoba cuek.
“Lagi nunggu siapa nih di sini ?” keduanya mengapit Via. Jantung Via berdegup kencang. Vin, tolongin gue. Seru hatinya. Via ingin sekali menangis. Bego banget ya dia pake cara kayak gini. Kalo Alvin ngga dateng kan bahaya !
“Kok ngga jawab sih “ Salah satu cowok mencoba menyentuh wajah Via tapi ditepis oleh Via. Cowok itu geram. “Jual mahal banget sih lo !” Cowok itu memegangi wajah Via. Via bangkit, mencoba pergi.
“Wei wei wei mau ke mana ? Yang udah masuk wilayah ini, ngga segampang itu bisa keluar lagi” Cowok itu menarik lengan Via.
“Lepasiiiin” Via mencoba berontak. Cowok yang satu lagi memegang wajah Via, membuat Via sulit bicara.
“Mau minta tolong ke siapa sayang ??” kata cowok itu.
Alvin, please dateng Vin, gue takut.
BUKKKK BUKKK ! Hantaman keras. Alvin datang !
“Jangan macem macem sama cewek gue !”
Kedua cowok itu tersungkur. “Sialan lo, ngajak berantem”
“Lawan gue !” tantang Alvin.
Kedua cowok itu merasa tertantang. Mereka bangkit dan menghadapi Alvin.
Alvin mengeluarkan mawashinya, tepat mengenai punggung dan pipi cowok cowok itu. “Baru segitu keok lo !” Alvin tersenyum remeh. Untung dia sempet ikut karate sampe sabuk cokelat.
“Ayo !” Alvin meraih tangan Via, membawanya lari kearah motor Alvin.
“Cepet naik”
Via menuruti seluruh perkataan Alvin. Ia tersenyum, kini Via yakin, Alvin masih sayang sama dia.
Di perjalanan, mereka diam.
Alvin membawa Via ke taman dekat sekolah.
Alvin tak berkata apa apa, ia turun dari motor lalu duduk di sebuah bangku. Wajahnya merah kesal.
Via menghampirinya. “Thanks Vin”
Alvin menatap Via tajam. Ia berdiri. “Gila kamu Vi ! Ngapain sih berbuat hal bodoh kayak tadi ? Ngebahayain diri banget ! Bikin khawatir kamu Vi ! Kalo seandainya tadi aku ngga dateng, mau jadi apa……..”
Ucapan Alvin terhenti, Via tiba tiba memeluknya.
“Maafin aku Vin, aku emang bodoh tadi”
Alvin melepaskan pelukan Via.
“Lain kali, jangan kayak tadi lagi, mmm soal tadi gue ngakuin lo jadi cewek gue, lupain a…”
Belum Alvin selesai bicara, Via kembali memeluknya.
“Jawab jujur Vin, kamu masih sayang sama aku kan ?”
Alvin terdiam. Lalu ia kembali melepaskan pelukan Via. Kemudian duduk lagi.
Via ikut duduk di sampingnya.
“vin”
“jawab aku Vin”
Alvin menatap wajah Via. “Kamu ngga marah sama aku ?”
“Marah kenapa ?”
“Selama ini, aku punya niat jahat sama kamu Vi”
“Niat jahat ?”
“ayo ikut aku”
Via mngikuti Alvin. Alvin membawanya ke makam Iel.
“Kamu kenal ?” tanya Alvin sambil mengusap nisan makam Iel.
Via tampak shock. “Kak Kak Kak Iel, kakamu ada hubungan apa Vin ?”
“Iel, kakak aku Vi”
“kakak ?”
“dua bulan lalu, dia meninggal, karna kamu”
Via membulatkan matanya.
“dia kecewa berat kamu nolak dia, iel naksir kamu semenjak SMP, makanya itu, dia bener bener kecewa, iel orangnya nekat, dia bawa motornya ngebut hari itu dan yah inilah akibatnya”
Air mata Via menetes. Ia ngga nyangka sikapnya dulu bisa membuat Iel seperti ini.
“Orang tua aku udah meninggal, aku tinggal berdua sama Iel, tapi, sekarang Iel juga udah ngga ada, aku hidup sendiri, mengandalkan warisan papah, dulu, aku juga sempet kecewa berat sama kamu, aku dendam sama kamu Vi, dan aku punya niat jahat buat ngehancurin kamu” jelas Alvin sambil menatapi nisan Iel.
Via terkejut. “Jadi ? Selama ini kamu ??”
“Ya, aku deketin kamu buat ngehancurin kamu, tapi aku ngga tega, mungkin, aku udah mulai sayang sama kamu, maafin aku Vi, aku tau, setelah mendengar pengakuan ini, kamu bakal ninggalin aku, jauh”
Via menatap Alvin nanar.
“Aku ngga akan bisa jauh dari kamu Vin, aku sayang sama kamu, justru, aku yang salah buat kamu menderita”
Alvin menatap Via. Ia hapus air mata Via. “Iel datang ke mimpi aku, dia bilang, aku harus jagain kamu, karna aku sayang sama kamu”
Keduanya tersenyum.
“gue janji di depan lo Bang, gue bakal jaga Via”
Alvin memalingkan wajahnya lagi kearah Via, “aku juga ngga akan sakitin kamu lagi Vi, aku bakal jaga kamu”
“Thanks Vin” Alvin mendengar seseorang berbisik di telinganya, atau hanya hembusan angin ? tapi ia tau, itu Iel.
__________________________________________________________________________
hiyaaaaaaaaaaaaaaauuu!!
ini saya jga copass :D
saya kan tukang copas :p
okidi ga ada yg nanya
ini punya kak anind . hehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar