Jumat, 17 Desember 2010

JALAN TERBAIK cerpen *kak Ken*

ku berjalan dengan riang sambil menggandeng tangan Alvin, kekasihku. Hari ini seperti minggu-minggu kemarin, aku menemani dia pergi ke gereja, tepatnya aku hanya mengantarnya dan menunggunya di sebuah café yang ada dipersimpangan jalan menuju gereja Alvin. Alvin adalah seorang kristiani yang taat sementara aku adalah seorang muslim, perbedaan yang jauh menjulang itu tak terlalu berarti bagi kami berdua.

“Aku gereja dulu ya Vi, mungkin jam sebelas udah selesai.” pamit Alvin padaku

“Seperti biasa, aku tunggu kamu di café Fairiz.” kata ku sambil tersenyum pada Alvin, Alvin mengelus lembut pipiku dan masuk kedalam gereja dan aku pergi ketempat dimana aku biasa menunggunya.

Di café, aku ambil tempat duduk di sudut ruangan tempat yang biasa aku tempati ketika aku menunggu Alvin. Ku pandangi sekeliling, tak ada yang berubah sejak pertama kali aku menunggu Alvin gereja, enam bulan yang lalu. Ku ambil i-pod yang ada didalam tasku dan mulai menyetel lagu-lagu untuk mengusir rasa bosanku, sambil membaca-baca beberapa buku novel yang ku bawa dari rumah.

Tak terasa sudah tiga jam aku menunggu Alvin, sudah dua gelas jus jeruk yang kuhabiskan selama aku menunggu Alvin. Dari arah pintu café ku lihat sosok yang sedari tadi ingin ku jumpai, sosok yang selalu membuatku merasa nyaman dan damai. Dia selalu datang dengan senyuman saat menghampiriku

“Maaf ya Vi lama buat kamu nunggu.” katanya sambil mengambil posisi duduk tepat didepanku

“Ga masalah kali Vin, biasa aja.” senyumnya semakin melebar, aku suka jika dia seperti ini selalu

“Oh iya, katanya kamu mau bicara sama aku. Mau bicara apa?” tanya Alvin padaku, aku teringat akan hal yang ingin ku sampaikan padanya

“Kamu jangan marah ya tapi.” pintaku ragu-ragu

“Iya, lagi pula kenapa juga aku harus marah sama kamu.” suara Alvin begitu lembut menenangkan hatiku yang sedang bergemuruh hebat

ku tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan “Ayah dan bundaku mau tau tentang siapa kekasihku” Alvin sedikit terkejut kelihatannya

“Maksudmu?” tanya Alvin

“Ya mereka minta kamu ke rumah Vin, menurutmu bagaimana?”

“Menurut ku? Aku ya terserah kamu aja Vi, toh selama ini kamu yang selalu melarangku untuk datang ke rumahmu bahkan hanya untuk sekedar berkenalan dengan mereka akupun tak di perbolehkanmu.” aku tau selama ini memang aku yang melarangnya, aku masih tak siap jika keluargaku tau yang sebenarnya

“Vin, kamu ga sayang ya sama aku?” tanyaku

“Via, aku jawab kayak tadi bukan karena aku ga sayang sama kamu tapi aku hanya ga ingin memaksa kamu untuk memperkenalkan aku sama keluargamu.”

“Jadi?” aku bosan berbasa-basi jika sudah menyangkut hal ini, aku tak suka sikap Alvin yang terlihat cuek dengan hubunganku dan dia

“Aku ikut kamu aja.”

“Baiklah kalau begitu aku mau kamu datang sabtu depan ke rumahku, jam tujuh.” putusku, Alvin hanya mengangguk sedikit diiringi senyuman, bukan membalas senyumannya aku melengos kesal pada Alvin

“Jangan ngambek ya nona cantik.” rajuknya sambil mengacak-acak pelan rambutku, jelas aku sedikit tersenyum meski rasa kesal masih ada dihatiku.

“Kita ke taman aja yuk?” ajaknya aku tau dia sedang berusaha membuatku kembali ceria

“Beli eskrim ya?” pintaku, emosi ku selalu kalah dengan kesabaran Alvin yang luar biasa

“Iya, beli balon juga boleh.” canda Alvin

“Bercanda aja terus Vin” kataku sambil menjitak kepalanya

“Hehehe, kalau serius terus hidup itu ga indah.” elaknya

“Sekarepmu deh.” aku segera ke meja kasir, membayar pesananku tadi dan berjalan beriringan lagi dengan Alvin,

Adzan berkumandang tepat saat aku dan Alvin sampai ke taman

“Sholat aja dulu Vi, aku anter yuk.” Alvin menggandeng tanganku menuntun jalanku kearah masjid ditaman itu, sejujurnya aku masih enggan untuk beranjak darinya

“Kamu mau nunggu dimana?” tanyaku saat ada dipelataran masjid

“Disini.” Jawabnya

“Yakin?” dia hanya mengangguk sambil duduk di teras masjid masih dengan alkitab ditangannya. Aku hanya menurut pada keinginan Alvin tak pernah aku bisa mengerti apa yang sedang ada didalam pikiran Alvin saat ini, ku langkahkan kakiku ke tempat wudhu dan segera sholat

‘Ya Allah, ampuni aku dan selalu lindungi aku dalam jalanMu.’ do’a ku dalam hati seusai menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim, aku tak mau terlalu lama membuat Alvin menunggu di luar sana. Aku cukup salut pada Alvin setiap menungguku menjalankan kewajibanku, dia akan tetap terus berada ditempat yang sama meski semua mata menatap sinis kearahnya

“Lama ya Vin?” tanyaku, dia melirik jam tangannya lalu tersenyum

“Hanya sepuluh menit, apa lamanya?” tanyanya santai, aku tersenyum padanya dan diapun balas tersenyum padaku.

***

Sabtu itu datang dengan cepat, kurasakan degup jantungku terasa begitu kencang, pikiranku semakin tak karuan mendekati waktu Alvin datang kerumahku

‘Ting..tong..’ suara bel rumahku akhirnya berbunyi, ku hela nafas panjang sebelum mulai membuka pintu, aku yakin itu pasti Alvin

“Malem Vi.” sapa Alvin

“Malem Vin, ayo masuk.” ku tuntun langkah kaki Alvin menuju ruang makan rumahku, disana ayah, bunda dan kak Shilla serta kak Riko sudah menunggu kedatangannya

“Silahkan duduk.” Kata bundaku mempersilahkan Alvin duduk, aku menganggukkan kepalaku memberi isyarat pada Alvin

“Namamu siapa?” tanya ayahku saat acara makan malam itu dimulai

“Alvin Oom, lengkapnya Alvin Jonathan.” Ku lihat ekspresi wajah ayah berubah, tak hanya ayah ternyata bunda dan kak Shilla pun begitu hanya kak Riko kakak iparku yang biasa saja saat mendengar siapa nama lengkap Alvin

“Kamu satu sekolah dengan Via?” tanya ayah lagi

“Tidak Oom, saya di SMA Cavernicus.” Jujur aku begitu tegang dan takut tapi semua tak kulihat diwajah Alvin dia masih bersikap santai

“Kamu muslim?” tanya bundaku

“Saya kristiani tante.” Kak Shilla menatap kearahku meminta penjelasan, aku hanya bisa menunduk pasrah, aku tau ini harus terkuak suatu saat dan inilah saatnya. Atmosfer dikeluargaku sudah tak enak terutama pada ayah dan ibuku

“Sudahlah yah, bun ayo kita makan.” Kata kak Riko berusaha menetralkan suasana

“Iya yah, bun ayo kita makan.” Timpal kak Shilla, dalam hati aku sungguh bersukur memiliki kakak-kakak yang mau membantuku.

***

“Saya pulang dulu Oom, tante.” Pamit Alvin seusai acara pertemuan singkat itu, ayah tak ada reaksi sama sekali begitu pula dengan bunda meski tak ada kesan penolakan, tapi sikap diam ayah dan bunda adalah sebuah jawaban bahwa mereka tak menginginkan Alvin lebih jauh bersamaku

“Via, duduk sini!” kata ayah tegas padaku setelah Alvin keluar dari pintu pagar rumaku, aku hanya bisa pasrah dan menuruti perintah ayah

“Ada apa yah?” tanya ku

“Ada apa katamu? Kamu bawa siapa barusan?” suara ayah mulai meninggi

“Alvin yah.”

“Iya, tapi kamu taukan siapa dia?”

“Dia Alvin yah, pacarku.” Jawabku dengan nada yang bergetar hebat, tangisku hampir pecah

“Putuskan dia! Dia beda dengan kita, dia kristiani!” bentak ayahku

“Aku ga bisa ayah.” Ayah geram dan sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipiku

“Terimakasih ayah, atas tamparan ini.” Kataku lalu lari pergi kekamar, aku sudah tak bisa lagi menahan laju airmata yang sedari tadi tertahan

‘Tok..tok..tok..’ pintu kamarku diketuk seseorang

“Via, ayo buka pintunya ini kakak.” Suara kak Shilla terdengar jelas dari balik pintu itu, tapi apa daya aku sedang tak ingin di ganggu, hatiku terlampau perih untuk saat ini.

***

Sejak kejadian itu, semua penghubungku dari dunia luar diambil oleh ayah. Tak ada lagi kebebasan yang bisa aku dapatkan sebelum aku mau memutuskan hubunganku dengan Alvin, bahkan berangkat dan pulang sekolahpun aku di antar jemput

“Kak, aku kangen sama Alvin.” Aku jujur pada kak Shilla dan kak Riko, hanya mereka berdua yang sudah tau kondisiku dengan Alvin sebenarnya

“Tapi kami bisa berbuat apa untukmu dek? Sementara membawamu keluar hanya untuk sekedar berjalan-jalan saja ayah melarangnya.” Kak Shilla mengerti perasaanku

“Kak, aku ga kuat lagi menahan rasa rindu ini pada Alvin kak.” Isakanku makin menjadi, kak Shilla memelukku, sementara kak Riko menyandarkan tubuhnya di tembok kamarku, sedang berpikir keliatannya

“Ah, aku tau caranya biar kamu bisa sekali saja ketemu Alvin.” Kata kak Riko tiba-tiba, ku hapus airmataku

“Bagaimana caranya kak?’ tanyaku antusias

“Kakak yang jemput kamu besok, kebetulan ayah ada meeting dan ga mungkin jemput kamu!” terang kak Riko membuatku sedikit tersenyum

“Janji kak?” tanyaku memastikan

“Iya janji.”

***

Kak Riko menepati perkataannya, dia benar-benar menjemputku. Meski setiap lima menit sekali ayah telepon tapi kak Riko tetap membantuku

“Ayo cepat temui Alvin, kita ga bisa lama-lama disini.” Peritahnya, aku segera menyusuri sekolah Alvin, mencari keberadaannya. Aku terhenti di sebuah bangunan yang ku tau itu gereja di sekolah Alvin, dengan langkah yang tak pasti aku memasukinya, untuk pertama kalinya aku masuk kedalam gereja. Kulihat Alvin sedang berlutut disana, sambil berdoa

“Tuhan, tolong bantu aku. Jaga Sivia kekasihku saat aku jauh darinya, lindungi dia, dan kasihi dia, kirimkalah seseorang yang baik untuknya disaat nanti ragaku ini tak lagi bisa bersamanya.” Doa Alvin untukku

“Alvin.” Lirihku, Alvin segera menyudahi doanya dan dia melihatku

“Via?” Alvin segera bangkit dan menghampiriku, aku tak kuasa membendung rasa rinduku, aku langsung memeluk Alvin dengan airmata yang terus mengalir di pipi

“Aku kangen kamu Alvin.”

“Aku juga Via, tapi kita tak mungkin bersama.” Ku lepaskan pelukanku dari Alvin

“Maksudmu?”

“Malam itu setelah menemui orang tuamu, aku menyadari mereka tak menerimaku, aku juga sedikit mendengar pembicaraan kalian malam itu, isakan tangismu, suara ayahmu yang meninggi.”

“Vin..”

“Via, kita butuh waktu sendiri. Aku tau kita sudah sama-sama besar dan tau mana yang harus dipilih.” Sela Alvin memotong ucapanku

“Aku ga sanggup berpisah dengan kamu Alvin.” Isakanku semakin menjadi

“Ayolah Via, kita butuh waktu dan aku tau kita berbeda. “ Alvin berusaha menenagkanku

“Aku butuh kamu.”

“Aku juga butuh kamu.”

“Lalu?” ku seka airmataku, ku tatap wajahnya yang teduh itu

“Kita harus sama-sama berpikir, masalah ini tak bisa kita selesaikan saat kita sama-sama seperti ini.”

“Baiklah Vin.” Aku melangkah keluar gereja, sesekali ku tengok dia kebelakang dengan harapan Alvin akan menahanku tapi nyatanya harapan tinggal harapan dia tetap berdiri di tempatnya dan melepas kepergianku.

***

“Kalian berdua harus berpisah Via, secepatnya.” Kak Shilla memberikan nasihat kepadaku sesaat setelah aku bercerita soal petemuanku dengan Alvin tadi disekolah Alvin

“Tak ada jalan lain kak?” tanyaku penuh harap sayang kak Shilla menggeleng pelan

“Tak ada Via, cinta kalian ga bisa bersatu.”

“Kenapa? Karena agama?”

“Iya.”

“Kenapa harus itu yang selalu di permasalahkan kak? Cinta aku sama dia tulus dan kami saling menghargai.”

“Sayang, tak selamanya cinta itu hanya dilandasi hal itu. Inget Via, agama adalah hal yang tak bisa di tolerir, kamu bisa menyakiti sang pemilik hidup jika terlalu egois seperti ini, dan itu yang membuat kamu dan Alvin tak bisa bersama. Cinta itu tak harus saling memiliki, karena terkadang cinta adalah sebuah pengorbanan sayang.” Nasihat kak Shilla benar-benar membuatku sedih, tapi kata-kata itu benar-benar ku resapi didalam hati, sedikit demu sedikit ku coba cerna didalam otak ku ini.

***

Aku hubungi Alvin untuk segera bertemu ditempat biasa aku menunggunya jika ke gereja ku putuskan hal ini setelah merenungkannya beberapa waktu, dengan bantuan kak Shilla dan kak Riko akhirnya aku bisa meyakini ayah dan bunda untuk mengizinkanku bertemu dengan Alvin, toh ini semua demi menyelesaikan permasalahanku.

Hujan terus turun dengan deras di luar sana, mungkin alampun tau apa yang sedang aku dan Alvin rasakan saat ini, sejak setengah jam yang lalu tak ada satupun diatara kami yang berani membuka pembicaraan. Aku menghela nafas panjang

“Vin.” Aku mulai membuka pembicaraan kami, canggung rasanya setelah beberapa pekan ini aku tak berkomunikasi dengannya

“Ya?” suara Alvin masih tetap sama, masih tetap bisa membuat jiwaku yang sedang gundah saat ini

“Bagaimana masalah ini?” tanyaku, Alvin tersenyum padaku lalu mengenggam tanganku

“Tenang lah Vi, semua akan segera berakhir.” Aku tau arah pembicaraan ini, aku sudah merasa siap jika hal ini akan dan memang harus terjadi

“Perpisahan adalah jalan terbaik maksudmu?” Alvin mengangguk membenarkan

“Tapi karena Tuhan pertemukan kita dengan cara baik-baik, buat kita kenal dan jatuh cinta secara baik-baik maka aku juga harap perpisahan ini terjadi juga secara baik-baik Vi.” ucap Alvin bersahaja

“Aku juga inginkan hal itu Vin.” Kataku

“Jadi, mulai saat ini biarlah setiap detik yang pernah kita lewatkan menjadi bagian yang hanya selalu bisa kita kenang.” sekali lagi Alvin masih sanggup membuatku tenang

“Tak boleh ada lagi airmata yang tumpah dari mata indahmu.” Aku mengangguk sambil tersenyum

“Lebih baik kita pulang dan jalani hari-hari kita kedepan dengan impian yang baru, impian yang membuat kita sama-sama lebih dekat pada Tuhan kita sendiri.”

“Baiklah.” Aku beranjak dari tempat dudukku, begitu pula dengan Alvin. Di gandengnya tangaku ini dengan lembut, yang ku tau ini akan jadi yang terakhir darinya, setelah kami sampai didepan café ini, tandanya aku dan Alvin akan segera benar-benar menjalani hidup kami masing-masing.

“Vin, semua berakhir dengan baik meski tak indah.” Kataku saat persis berada didepan café

“Ya begitulah Vi, Tuhan punya rencana sendiri untuk kita berdua.” Alvin dan aku sama-sama menatap ke langit yang sekarang sudah kembali bersinar setelah tadi hujan turun, ku alihkan pandanganku kepada Alvin yang masih berdiri disampingku

“Vin, untuk terakhir kalinya aku ingin memelukmu.” Ucapku, Alvin menatap kearahku memberikan senyumannya yang pastinya suatu saat nanti akan selalu kurindukan ketika kami sudah saling berjauhan

“Silahkan Via.” Aku langsung memeluknya, membiarkan aku mendengarkan detak jantungnya yang damai

“Jangan lupa sholat, minta sama sang pencipta untuk selalu melindungiku seperti aku selalu berdoa sama Dia untuk selalu menjagamu.”

“Iya Vin, kamu juga jangan males ke gereja. Minta sama yang kuasa beri aku jodoh yang baik seperti aku yang selalu berdoa padaNya agar Dia memberimu pengganti yang lebih baik dariku.”

“Amiiiiiiin.” respon Alvin

“Aku masih tak rela berpisah darimu Vin.” Ungkapku juju

“Sudahlah Via, semakin lama kamu dan aku tak mengikhlaskan semua ini mungkin semakin sulit kita berpisah.” Kata Alvin, aku melepaskan pelukan ku padanya, memandangi wajahnya yang masih terhias senyuman

“Waktu kita sudah selesai Vin, hanya delapan bulan lebih waktu kita bersama.” Alvin mengangguk lalu berbalik begitu pula denganku

“Sampai jumpa di waktu yang lain Vi, saat kehidupan kita masing-masing sudah menemui kedamaian tersendiri.” suara derap langkah Alvin perlahan terdengar, aku melangkah sedikit demi sedikit melewati jalan yang lain, jalan yang tak sama arahnya dengan Alvin

‘Ya Allah, aku percaya engkau menggariskan yang terbaik untukku dan untuk Alvin, meski kami saling mencintai tapi tak selalu kami berdua harus bersama. Ku harap engkau menjaga dan melindunginya, memberikan seseorang yang mampu memberikannya bahagia di masa mendatang.’ Doaku tulus dalam hati untuk Alvin di sepanjang jalan

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar