============= Teachers. Parent. Friends. And. Love. (T.P.F.A.L) =============
Dengan setelan kemeja panjang berwarna coklat muda garis-garis coklat tua yang dilipat sesiku, dasi bertengger dilehernya juga celana jeans hitamnya, laki-laki bertubuh jangkung itu memasuki mobil Accord-nya setelah meminta izin pada atasannya untuk cuti hari ini. Sekarang pukul 07.03, masih pagi dan dia harus pergi. Pergi ke tempat itu, dimana sebuah kenangan yang telah melekat erat di memory otaknya.
Sambil menghela napas, laki-laki itu mulai memposisikan duduknya. Lalu memasang safety belt dan ia langsung menyalakan mesin mobil. Tenang.. sebentar lagi ia pasti akan sampai di tempat itu. Dan semuanya.. akan terasa lebih baik lagi dari ini.
Senyum tidak tergambar, tapi wajahnya selalu terlihat tenang, damai. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Matanya sipit—hal yang paling sering ia keluhkan pada Tuhannya—seperti kebanyakan orang Cina-Jepang-Korea sana. Rambutnya sedikit panjang dengan poni miring didepan, harajuku style? Entahlah, tapi ia terlihat keren sekali kali ini.
Baru saja akan menekan pedal gas mobilnya, sebuah suara menghentikan apa yang ingin dia lakukan. Ponselnya, berbunyi.. dan ia sama sekali tidak tahu siapa yang menelponnya, saat ia mengambil dan melihat cuma nomor yang tertera di layar ponselnya itu.
“Hai.” Laki-laki itu menyahut duluan, dengan pikiran melayang-layang ke masa lalunya. Dimana masa itu ia menjadi seseorang yang.. ------------
“KALAU KAMU BEGINI TERUS, MAU JADI APA KAMU?!” lengkingan suara dari dalam ruang BP terdengar sampai keluar. Siswa-siswi Aventura School yang tidak sengaja lewat situ sampai berhenti melangkahkan kaki dan malah mulai mengintip lewat kaca jendela supaya dapat melihat apa yang terjadi di dalam ruang BP.
Mereka mulai berbisik-bisik. Menyebutkan nama seorang siswa yang ada dalam ruang BP tersebut. Sebuah nama yang sudah sangat familiar bagi mereka. Nama yang sudah menjadi bual-bualan pembicaraan mereka setiap harinya—atau tiap minggu—atau—setiap jamnya.
“JANGAN DIAM SAJA! APA YANG BAKAL KAMU DAPATKAN KALAU BEGINI TERUS ALVIN?!” suara itu kembali mengagetkan beberapa siswi yang tengah mengintip. Membuat mereka mengelus dada dan beberapa kali menyebut seruan-seruan doa supaya obrolan di dalam ruang BP berhenti dan suasana kembali normal.
Tapi sayang, sepertinya doa yang mereka serukan kali itu belum terkabul.
Alvin hanya tersenyum. Menatap guru yang sudah seringkali ia jumpai dengan tatapan sinis seraya memundurkan punggung ke sandaran sofa yang ia duduki.
Wajahnya tetap santai. Matanya sinis. Senyum tersungging manis di bibirnya. Benar-benar seperti ia tidak mempunyai andil dalam masalah ini—dan yang padahal sudah jelas sekali kalau dia-lah yang bersalah, tapi mungkin, dia mempunyai konotasi lain dalam masalah ini.
“Saya akan mendapatkan kebahagiaan, Pak Duta. Sudah jelas bukan?” Alvin akhirnya angkat bicara, setelah 10 menit berlalu sejak Pak Duta—guru BPnya—membentak dan memilih diam bersamanya.
“Bagus, bagus sekali.” Pak Duta ikut menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil bertepuk tangan pelan. Membiarkan seulas senyum mematikan terukir di bibirnya, dan lagi-lagi itu semua—sama sekali tidak bisa menakuti seorang Alvin Jonathan.
“Kamu memang siswa yang sangat jelek reputasinya, sangat-sangat jelek sampai mendapat pikiran naïf seperti itu. Dasar murid tidak tahu malu!” ujar Pak Duta pelan, namun—sangat—kasar.
Sekali lagi, seakan omongan guru BPnya itu hanya angin lalu, Alvin tersenyum. Mengangkat tangan yang tadi ia geletakkan disamping tubuhnya untuk saling mengait didepan dadanya.
“Bapak sudah tahu semunya tentang saya. Jadi.. untuk apalagi kita obrolkan masalah ini?” nada santai jelas sekali terdengar dari mulut Alvin, tanpa beban, tanpa getiran, tanpa ketakutan.
“KAMU ITU!!!”
“Kenapa lagi pak? Suka banget sih ya teriak-teriak gitu? Nggak malu apa kalau diluar ruangan ini semuanya pada ngeliatin bapak yang galak begitu?” Alvin menegakkan tubuhnya lagi. Lalu menunjuk dengan dagu ke arah dimana banyak siswa-siswi yang memang sedang menyaksikan mereka.
Wajah Pak Duta menegang seketika saat melihat kerumunan diluar jendelanya.
“KALIAN! APA YANG KALIAN LAKUKAN DISITU?! KEMBALI KE KELAS!” dengan tangan tertunjuk, Pak Duta membentak siswa-siswi yang sedang mengintip diluar. Ia masih dalam posisi duduk, tenang saja, ia tidak akan berlari keluar untuk memecut satu persatu siswa-siswi yang ada diluar agar cepat pergi. Karena baru segitu saja semuanya sudah lari terbirit-birit.
“Suara bapak itu nggak enak di dengar tahu? Lebih baik jangan suka berteriak lagi mulai sekarang atau.. saya akan sumpel mulut bapak itu. Hahaha..” Alvin terkekeh pelan. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakannya, atau memang ia sudah tidak mempunyai rasa kepedulian lagi untuk orang-orang disekitarnya.
“Kalau boleh jujur saya sendiri tidak tahu kenapa kamu jadi begini. TAPI YANG JELAS KAMU SUDAH MELAKUKAN HAL YANG SANGAT FATAL BAGI MURID-MURID DISINI, KAMU DENGAR ALVIN?!” nafas Pak Duta naik-turun lagi. Terengah-engah lelah akibat setiap kalimat yang dilontarkannya sama sekali tidak berpengaruh untuk anak didik satu yang ada dihadapannya ini.
“Fatal bagaimana? Baru dipukul aja kok, nggak fatal amat kali.” Jawab Alvin santai.
“KAMU BILANG BARU? KAMU ITU GILA ATAU APA SIH ALVIN? KAMU ITU SUDAH JELAS-JELAS MEMUKUL 10 ORANG SEKALIGUS SAMPAI BABAK BELUR! APA KAMU BENAR-BENAR TIDAK TAHU DIMANA LETAK KESALAHAN KAMU HAH? Mereka sampai masuk klinik asal kamu tau!”
“Kesalahan saya? Saya gak ada salah sama sekali disini.” Kata Alvin lempeng. Mengangkat bahu sambil dengan pelan mulai mengatur napasnya.
“Kamu memang gila, sejak kapan kamu jadi seperti ini sih? Membantah orang yang lebih tua dan terus saja mengelak. Apa kamu sudah mencoba memakai barang haram itu? Sampai-sampai kamu lepas kendali dan jadi freak begini?”
Mimik wajah Alvin kini berubah serius. Senyumnya hilang. Tubuhnya kaku. Tegang. Merasa dilecehkan.
“Seburuk-buruknya saya, saya gak akan pernah nyentuh barang haram.”
“Oh great!” Pak Duta untuk kedua kalinya bertepuk tangan, “Terus kalau bukan karena itu, apa yang menyebabkan kamu jadi seperti ini?”
Alvin tersenyum miris. Matanya mendadak hampa, kosong. Ini semua memang bukan pengaruh obat-obatan atau apapun yang disebut barang haram itu. Sekalipun dia berontak untuk tidak mau melanjutkan hidup, atau sekedar untuk melupakan segala beban yang ia punya, ia sama sekali tidak akan mau untuk menyetuh barang haram.
Barang haram yang benar-benar haram, sampai-sampai kakak gue aja mati karenanya. Suck!
“Alvin Jonathan?” panggil Pak Duta. “Saya skors kamu!”
“HEI!” Pak Duta kehilangan kesabaran, menggebrak meja. Barulah saat itu Alvin tersadar, ia mengatur napas sejenak lalu menjawab.
“Saya kira Pak Duta sudah tahu semua tentang saya. Ternyata belum ya? Hahaha…” Alvin terkekeh, tapi dalam sekejap ia kembali menyeriuskan pembicaraannya lagi. “Tapi sayang, bapak tidak usah tahu lebih banyak lagi tentang saya. Dan hadiah skorsing itu, terimakasih. Saya senang sekali.” ++++
“Hei! Ah, lama amat sih diangkatnya? Habis dari kamar mandi apa hah sampai lama banget ngangkatnya? Haha..” derai tawa dari sebrang sana terdengar, membuat laki-laki itu menyunggingkan senyum yang dari tadi tidak ia tunjukkan. Ia melonggarkan dasi dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tersenyum semakin lebar. Senyum yang benar-benar murni. Manis, penuh ulasan kebahagiaan.
“Loh? Kok malah diem? Lo.. kesambet atau apa sih? Ini bener kan temen gue yang udah lama gak ada kabar itu? Temen gue yang namanya…” ------------
“Alvin, hei! Apa yang kamu lakukan disitu?” suara yang sangat ia kenal mengagetkannya. Tapi bukan Alvin namanya kalau tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Ia mendongak dan tersenyum sinis—seperti biasa.
“Mata ibu sudah gak bisa lihat ya?” Alvin balik bertanya, dingin.
Bu Winda—guru sosialnya—gelagapan. Ia menggaruk tengkuk belakangnya pakai telunjuk lalu menggeleng cepat-cepat. “Bukan seperti itu, mm tapi kenapa kamu milih tempat ini untuk makan?” Alvin yang tadi duduk dengan posisi kaki selonjor satu dan satu ditekuk, kini malah menyilangkannya. Menggeser sedikit bagian tubuh bawahnya agar lebih nyaman lagi.
“Memangnya ada tempat yang lebih pantas lagi untuk saya?” Alvin balik bertanya, lagi! Lalu, karena tidak mendapat jawaban dari gurunya, ia kembali menyuapkan sesendok mie.
“Kamu kan bisa makan dikantin Vin..” Bu Winda berjongkok di sebelahnya sambil menaruhkan tangan kirinya di pundak Alvin.
“Lagian makan di gudang kayak gini mana enak sih?”
“Buktinya saya nikmatin kok bu.” Tidak menghiraukan omongan gurunya, Alvin menyuapkan lagi mie-nya yang tadi ia beli dikantin. Ya, dia memang beli makanan itu di kantin. Tapi entah karena apa ia lebih menyukai untuk menjauhi keramaian.
“Ibu tahu masalah kamu. Ibu dengar kalau kamu di skors untuk 3 hari kemudian. Ibu juga lihat—“
“Oh ya? Masa? Baguslah kalau Bu Winda sudah tahu. Sekarang.. saatnya ibu untuk pergi dari sini dan ninggalin saya yang sekarang merasa terganggu karena ibu terus meracau disamping saya. Silahkan pergi.. “ tanpa menoleh sedikitpun, Alvin menyuruh gurunya itu untuk pergi. Sikap yang dirasa Bu Winda—atau bahkan semuanya—sangat tidak sopan sekali. Memotong perkataan gurunya lagi.
“Tidak. Ibu tidak akan pergi dari sini sebelum kamu menceritakan kenapa kamu sampai berbuat itu. Ibu tahu kamu punya alasannya. Alasan yang mungkin mampu melonjakkan kemarahanmu itu.” Bu Winda dari dulu memang ingin mencari tahu apa masalah anak didiknya yang satu ini. Tapi banyak kendala yang diakibatkan oleh ulah Alvin yang semakin sering juga membuat ia mengurungkan niatnya. Mungkin sekarang inilah saatnya.
“Jangan sok tahu. Saya gak papa kok, saya baik-baik aja.” Ucap Alvin datar, berbohong. Dia memang punya alasan. Alasan mengapa ia memukul ke-sepuluh orang yang padahal notabenenya masih berstatus menjadi ‘temannya’.
“Baik kalau kamu tidak mau cerita, ibu akan ke Pak Duta sekarang dan meminta supaya kamu tidak diskors. Ibu akan ajuin keringanan buat kamu.” Kata Bu Winda yakin. Mengangkat tangannya yang ada di pundak Alvin lalu beranjak berdiri.
Apa-apaan sih ni guru! Mau sok baik apa hah di depan gue? Enggak ya,gue gak bisa ditipu lagi!
“Tolong jangan sok baik sama saya bu. Saya gak perlu dikasihanin, dan buka topeng ibu sebelum ibu itu menjadi orang yang lebih mudah menipu banyak orang lagi.” Alvin mendongak, tersenyum sinis pada gurunya yang masih berdiri disampingnya.
Dan hal yang sama sekali tidak dibayangkan Alvin kali ini adalah.. gurunya tersenyum. Jelas, senyum yang masih bisa ia ingat sampai sekarang.. senyum seorang kakak pada adiknya yang tengah terpuruk.. senyum tulus itu.. yang mampu melelehkan segala kebimbangannya seketika, secepat ini.
“Saya bukan seorang penipu. Tenang saja, kamu adalah murid saya dan saya bertanggung jawab atas kamu. Apapun yang terjadi oleh anak didik saya, saya harus menemani. Sekalipun anak didik saya itu tidak ingin ditemani. So, believe me please my son. ++++
“Hallo? Ada orang disana? Hei..gue ngomong sendiri nih kayak orang gila. Ini bener temen gue itu kan? Si..” suara disebrang sana kembali menyahut setelah beberapa menit tidak mendapat tanggapan dari laki-laki yang masih saja terdiam sambil mengenang masa-masanya itu.
Kenangan itu, kembali menyeluruh masuk ke dalam ingatannya. Senyuman tulusnya, juga masih sangat kentara dipikiran si laki-laki, di bayang-bayang semunya.
“Heh! Iya, iya, ini gue Alvin. Dari dulu sampe sekarang tetep cerewet aja ya lo.. Haha..” laki-laki itu, yang ternyata Alvin akhirnya membalas sahutan orang yang ada disebrang sana. Tertawa lebar dan membungkus rapih lagi kenangannya.
“Ih, masih suka ya lo ngeledek gue? Emang lo tau apa ini siapa? Hayo.. ini siapa coba?” Kalau percakapan ini berlangsung secara empat mata, pasti Alvin sudah bisa mengira kalau orang yang ada diteleponnya itu akan menunjuk-nunjuk dia sambil ketawa cengengesan. Memintanya untuk mengira-ngira siapa yang ada didepannya.
“Siapa ya..” Alvin berpura-pura mikir. Padahal dengan telinga yang masih normal ia sudah bisa memastikan kalau orang disebrang adalah sosok itu. Sosok yang ikut mewarnai kenangannya dulu. Ia yakin itu dia, orang yang dia selalu ingat setiap waktu—sampai saat ini.
“Hayo siapa.. pasti lupa ya? Aih, gue emang gak pantes di inget kali ya. Udahlah gue jujur aja..” suaranya melemah, mungkin orang itu kecewa akan sikap ‘pura-puranya’ Alvin.
Alvin mengangkat alisnya, sampai ujung-ujung alisnya itu menyatu dipertengahan muka. Menyeringai lebar, memilih untuk diam dan tersenyum terus seiring menunggu reaksi orang di sebrang sana.
“Alvin..”
“Hmm..” “Vin..” “Hmm..”
“Lo bener gak inget suara siapa ini?” “Gak.” “Yakin?”
“He’em.” “Yah, ya udah deh gue nyerah.. gue ngaku aja..” “...”
“Alvin..” “Ya?”
“Lo masih disana kan? Dengerin gue? Dengerin baik-baik ya.. gue itu, orang yang dulu itu tuh. Yang punya nama leng—“
“Jangan! Biar gue yang jawab. Lo itu.. yang punya nama lengkap..” -----------
“Sivia Azizah?! Siapa juga itu bu? Saya gak kenal dia, maaf tapi saya gak bisa ya.” Alvin jelas tidak terima. Ia sedang berada diruangan Bu Okky—guru matematikanya—untuk membicarakan masalah keringanan yang di ajukan oleh Bu Winda kemarin. Sebenarnya hari ini ia tidak harus masuk, tapi saat pulang sekolah kemarin ia bertemu Bu Winda dan—nasibnya—gurunya itu meminta ia hari ini untuk datang, dan kalau kalian mau tahu.. ia hanya bisa mengangguk. Mengingat senyum itu.. senyum yang diberikan Bu Winda padanya..
“Tapi Vin, kata Bu Winda cuma dengan cara ini aja kamu bisa tidak diskors. Ayolah, mau ya? Cuma belajar aja kok, dan setelah kami—guru-guru pertimbangin, kamu itu unggul di pelajaran matematika. Pelajaran yang dibimbing saya. Dan kamu juga—seharusnya tahu kalau Sivia itu adalah anak paling pintar dalam urusan hitung-menghitung.” Bu Okky meremas-remas pinggiran baju bawahnya, cemas akan jawaban yang akan diberi oleh anak yang katanya dicap—bandel itu. Walau banyak tanggapan miring tentang sesosok Alvin itu bandel, tapi, dimata seorang Bu Okky, Alvin hanyalah seorang siswa yang polos dan masih labil dalam melakukan hal sehingga menyebabkan dia salah arah.
Guru matematika itu yakin kalau Alvin terus di asah dan di dukung untuk berjalan di jalan yang lurus dan benar, Alvin pasti bisa menjadi sosok yang di banggakan.
“Sebenernya saya gak ngerti sama guru-guru di sini.” Alvin menyandarkan tubuhnya ke belakang seraya menyelonjorkan kakinya ke lubang meja yang ada di bagian bawah. Melipat tangannya dan tersenyum—sinis.
“Eh, bagaimana maksudnya?” Tanya Bu Okky heran. Kenapa anak dihadapannya ini jadi ngelantur tidak nyambung sih?
“Saya benar-benar gak paham sama apa yang kalian pikirkan. Kalian itu, entah karena apa bisa-bisanya terus pertahanin saya sekolah disini, padahal udah banyak banget alasan yang dapat membantu kalian para guru sekalian untuk cepat-cepat men-DO saya dari sini.“ Alvin mendesah, terus memperlihatkan senyumnya. Membiarkan guru yang ada dihadapannya tertegun sejenak.
“Saya juga tidak mengerti sama kamu Alvin.” Alvin mengernyitkan dahi, heran dengan apa yang dikatakan gurunya barusan. “Ibu tidak perlu repot-repot mengerti tentang saya. Hahaha..” Alvin tertawa. Sendirian.
“TAPI SAYA SEBAGAI GURU HARUS MENGERTI MURIDNYA ALVIN!”
“Ha..ha..ha..” tawa Alvin merendah. Kaget dengan reaksi Bu Okky yang sangat-sangat membuatnya semakin heran. Tapi sedetik kemudian, ketika ia melihat mata sang guru. Ia bisa menerkanya. Gurunya itu marah. Kecewa dengannya. Sudah jelas sekali.
“Saya disini, sebagai perwakilan dari guru yang lain memberikan kamu kesempatan kedua Vin. Memberi kesempatan untuk kamu benahi diri kamu, mengeksploitasi hal apa yang kamu mampu. Disini kami tidak ingin kamu lebih hancur lagi.” Mata Bu Okky mulai mengabur akibat genangan air yang mulai menggantung di pelupuk matanya.
“Kami semua itu sayang sama kamu Vin.. sayang..”
“Bullshit!”
Semua orang yang ada di hidup gue itu bullshit. Sampai-sampai guru gue pun sama aja begitu.
“Ibu tidak tahu harus bilang apa lagi. Tapi yang terpenting, besok, setelah pulang sekolah nanti.. kamu harus nemuin ibu lagi di sini. Dan tentu saja ibu akan memperkenalkanmu dengan Sivia.” Bu Okky mengulum senyum sambil menyeka air matanya, “Ah dan ya.. seorang guru itu tidak akan pernah menelantarkan muridnya Vin. Inget itu.” ++++
“…Sivia kan? Sivia Azizah? Si guru paling nyebelin dan sok paling care waktu gue SMA? Hahaha sialan lo, kemana aja? Apa kabar?” Alvin menegakkan tubuhnya, lalu menyalakan kembali mesin mobilnya.
Seorang guru itu tidak akan pernah menelantarkan muridnya Vin. Inget itu. Ah kata-kata itu..
“Great kalau lo inget gue! Hahaha, tapi ehm apa tuh maksudnya guru paling nyebelin? Dan siapa bilang gue sok-sok peduli sama lo? Gue baik, selalu hehehe..” Via—panggilan singkat Sivia, disebrang sana menaikkan satu oktaf dari tinggi nada suaranya.
Alvin terdiam sejenak. Guru. Guru. Guru. Gurunya juga lah yang telah mendekatkan dia akan sosok itu..
“Alah, udah deh ya gak usah sok lupa. Dari awal ketemu lo itu udah sangat..” -------------
Sudut kanan bibirnya berdarah. Sekitar wajahnya juga penuh memar bekas pukulan. Alvin terkapar di depan sekolahnya sekitar jam 4 sorean. Setelah setengah jam sebelum kejadian itu ia berdiam diri dibelakang sekolah untuk menenangkan pikirannya.
Tapi memang na’asnya kurang baik saat itu. Anak sekolah lain, yang Alvin kenal sebagai komplotan kesepuluh anak yang ia pukuli sampai babak belur kemarin-kemarin, menungguinya digerbang sekolah. Keadaan yang lemas akibat pusing memikirkan perihal guru-gurunya, Alvin langsung dihantam saja waktu itu.
Ia tidak melawan sama sekali, bahkan kekuatan energy dalamnya juga tidak ia pakai. Ia memilih untuk menikmati setiap rincian pukulan yang dihantamkan ke tubuhnya. Tertawa. Terus tertawa dalam kesakitan fisiknya. Tapi tetap tidak bisa mengalahkan kesakitan batinnya.
Bunuh gue sampe mati. Bunuh aja gue sampe mat—
“Apa yang lo-lo lakuin! Bubar!” seorang gadis berkacamata yang baru keluar dari gerbang sekolahnya terpukau kaget serta marah melihat ada banyak orang yang tengah memukuli ‘seseorang’ di depan sekolahnya. Bahkan ia tahu siapa yang dipukuli itu!
Pak Chiko—satpam sekolah Aventura School—juga langsung keluar setelah mendengar teriakan galak Sivia. Ia tadi tertidur, kelihatannya.
“Apa yang kalian lakuin?! BUBAR atau saya panggil polisi sekarang!” Pak Chiko mengancam, tegas, sambil mengangkat tongkat kayu kecil hitamnya ke atas. Alih-alih bersiap untuk memukul.
Tidak harus sampai dua kali memperingatkan, anak-anak yang memukuli Alvin langsung pergi sambil bergidik ketakutan. Alvin mendesah, kecewa.
Sialan. Gue masih hidup!
“Lo.. gak pa-pa?” gadis itu menjongkokkan tubuhnya disamping Alvin yang terkapar dijalan. Jalanan yang sepi karena Aventura School memang tidak langsung berhadapan dengan jalan raya langsung.
“Gue? Kenapa-kenapa. Seharusnya lo tadi diemin mereka supaya gue gak pa-pa.” Jawab Alvin, sinis.
“Loh, kalau tadi gue diemin ya mereka pasti terus mukulin elo hei..”
“TAPI EMANG ITU MAU GUE! GUE PENGEN MATI BODO!” Alvin mengangkat kepalanya sedikit, menatap tajam gadis berkacamata yang melihatnya dengan tatapan khawatir.
Khawatir? Gila! Selama ini gak pernah ada yang mau peduliin gue, apalagi ngekhawatirin?!
“Jangan ngomong kayak gitu..” gadis itu berbisik.
“SOK BAIK SEKALI LAGI SAMA GUE, GUE BAKALAN NAMPOL ELO SUMPAH!” bentak Alvin keras. Si gadis berkacamata itu tertegun, pucat.
“E-elo.. lo.. pasti Alvin anak 11 IPA 4 itu kan?”
“HEH—“ “Ah ya, gue Sivia.” “NYEH LO IT—“
“Salam kenal ya.. baru kali ini gue liat lo secara deket hehehe..” “…..”
Gadis berkacamata—yang mengaku sebagai Sivia—itu menundukkan kepalanya. Menatap lekat laki-laki yang terkapar disampingnya dengan tatapan yang sama sekali tidak disangka Alvin bakal berubah menjadi ceria dengan cepat. Walau sedikit… gemetar. ***
Pulang sekolah, besoknya.
Pemukulan yang diterimanya kemarin sore menjadi pembicaraan banyak orang. Ia tidak peduli—tidak akan pernah. Ia hanya menganggukan kepalanya saja saat banyak orang yang menanyai kenapa dia bisa seperti itu.
Ia memang punya banyak teman. Banyak yang peduli sama dirinya—tapi dia belum percaya. Bahkan, ia sama sekali tidak dijauhi oleh teman-temannya karena ia bandel sekalipun. Oke, terkecuali kesepuluh orang yang ia pukul tempo hari itu. Kesepuluh orang yang sudah beraninya menelusuk lebih dalam hidupnya—tanpa ia minta, dan dengan beraninya pula mereka menghina hidupnya itu!
“Akhirnya kamu datang Vin..” Bu Okky tersenyum senang. Akhirnya anak yang ditunggunya selama setengah jam, datang juga ke ruangannya dengan muka lebam dan gestur malas tentunya.
Alvin tanpa menanggapi perkataan Bu Okky langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa yang berhadapan dengan Bu Okky dan.. Via.
“Oke, langsung aja. Alvin kenalin ini Via. Via, ini Alvin. Cepet akrab ya kalian.. hehe..” Bu Okky terkekeh sambil menepuk-nepuk bahu Via yang duduk disampingnya.
Via, hanya bisa tersenyum kaku dan menatap ke lantai yang ia injak.
“Kita sudah kenal kok bu.” Alvin yang terlihat sedang memejamkan mata membuka suara. Membuat ulasan senyum lebar di bibir Via. Alvin sudah tidak marah. Dia sudah tidak marah, tapi.. benarkah? ***
Dua orang yang sama. Jam yang sama. Tempat yang sama. Harinya saja yang berbeda. 2 hari setelah mereka bertemu di ruangan Bu Okky untuk memulai kegiatannya.
“Kalau lo sakit.. kita berhenti aja belajarnya. Besok lag—“
“GUE NGGAK PA-PA. JANGAN PEDULIIN BISA GAK SIH!” tidak disangka, ternyata, seperti sebelumnya, sikap Alvin pada Via masih begitu. Keras, suka membentak. Tidak peduli telah menyakiti hatinya secara perlahan. Tapi bukan Sivia namanya yang mudah terpancing emosi.
“Pasti ada apa-apa, toh wajah lo.. “ Via mengangkat tangannya, menjulurkannya ragu ke muka Alvin yang bersebrangan dengannya dan dihalang oleh meja kayu di ruangan Bu Okky.
Tubuhnya sedikit di condongkan, kepalanya dimiringkan agar dapat melihat lebih jelas lagi sosok yang terlihat sangat kacau dihadapannya itu. Jari telunjuknya mulai menempel di wajah Alvin. Menyusuri tiap lekuknya, setelah beberapa detik, perlahan kelima tangannya juga mulai ikut menempel. Membelai wajah Alvin yang kini sama sekali tidak bergerak—entah kenapa.
“Lo.. berantem lagi ya?” tanya Via pelan, memperhatikan setiap lebam yang tergambar jelas diwajah Alvin.
“Bukan urusan lo, minggir!” Alvin tiba-tiba beranjak berdiri, membuat Sivia menarik kembali tangannya dan menelengkan kepala dua kali.
“Ma..mau kemana Vin?”
“Lo budek atau apa sih? Bisa denger gak sih kalau yang gue lakuin itu BUKAN URUSA—“
“Ah ya udah, tapi besok kita tetep ngobrol lagi ya? Belajar?” “LO!” ***
“Mulai sekarang.. kalau Alvin punya masalah, cerita sama Via ya?” Via menepuk pelan bahu Alvin yang tengah duduk disampingnya. Memiringkan kepala ke arah Alvin dan tersenyum. Tersenyum ramah seperti biasanya.
“Apapun?” “Ya, apapun aja.. Via bakal dengerin kok..” ++++
“Sangat..? Sangat apaan?” Tidak mendengar lanjutan dari perkataannya, Via menyahut lagi.
Alvin tertegun. Waktu dulu, semasa SMA-nya, ia hanya bisa bercerita lepas pada sosok itu. Sesosok orang yang menurutnya aneh dan sabar sekali menghadapi setiap bentakan yang ia lontarkan pada orang itu.
Orang yang selalu menemaninya. Duduk disampingnya. Memberikan setiap motivasi hidup yang membuat dia bisa menjauh dari lubang hitam pekatnya. Menjauhi kegelapan dalam kesendiriannya. Juga membuat dia mulai membuka mata dan merasakan desah nafasnya sendiri yang dulu—sebelum bertemu orang itu—sama sekali tidak ia perhatikan.
Orang itu juga yang memperkenalkannya ke dunia luar, membuat ia menyelami lagi arti dari kepedulian teman-teman dan guru-gurunya yang dulu sama sekali tak pernah ia anggap sama sekali, yang ia anggap hanya bualan belaka—penipuan.
Dan orang itu.. yang saat ini tengah meneleponnya. Sivia. ---------
“Gue gak pernah percaya orang. Gue selalu ngehindarin deket sama orang karena takut dikhianatin, takut ditipu. Takut kebaikan orang yang dekat sama gue itu hanya bualan belaka. Not real. Not fact.” Alvin mendesah pelan sambil tersenyum miris. Selama ini, selama 3 tahun terakhir Alvin memang menutup dunianya untuk orang lain. Ia berdiri sendiri, menjalani hidup dengan kekerasan yang dipertunjukkan oleh kedua orang tuanya. Pemaksaan, pemaksaan agar ia bisa menjadi seorang anak yang dapat dibanggakan. Menjadi seseorang yang berhasil.
Baik, sebenarnya itu adalah hal yang wajar. Hal yang paling wajar yang akan di pertuntutkan oleh orang tua pada anaknya sendiri. Tapi, itu semua juga menjadi dasar pertama yang membuat Alvin ingin berontak.
Dan kejadian 2 tahun lalu ketika ia duduk di bangku SMP, mampu membuat ia mempertahankan untuk tidak berteman dengan siapapun lagi. Teman SMP-nya itu mengkhianati dia. Entah karena apa. Ia sungguh-sungguh tidak mau mengingatnya lagi. Ingin melupakannya. Ingin membuang jauh-jauh masa itu.
“Lo tahu Vi? Gue nyaksiin sendiri apa yang dilakuin bokap nyokap gue. Mereka, adalah dasar yang menyebabkan gue gini. Mereka ingin anak-anaknya berhasil, mereka ingin anak-anaknya menjadi nomor satu. Menjadi yang paling baik diantara yang terbaik. Apa menurut lo ini semua.. masuk akal? Bukankah mereka berlebihan banget sama anak-anaknya? Padahal, bokap nyokap gue itu selalu pergi, ngelantarin anaknya dirumah sendirian. Sampai-sampai kakak gue meninggal..” Alvin menyandarkan kepalanya dipundak Via. Via sempat menoleh kaget tapi akhirnya membiarkan juga. Ini pertama kalinya Alvin mengeluarkan unek-unek kehidupannya.
“Namanya Shilla. Cantik—kayak lo. Senyumnya manis penuh kebahagiaan. Gue gak pernah nyangka dia, kakak gue itu malah nyerahin diri dengan cara bunuh diri. Sampai sekarang pun gue gak tahu apa penyebabnya, gue gak tahu apa yang nyebabin dia sampai berbuat sejauh itu untuk ‘make’ dan akhirnya.. overdosis, meninggal. Mungkinkah akibat dia bosan hidup bersama keluarga Taradinata? Entahlah.” Alvin mengatur napasnya. Sedangkan Via menaruh tangan kanannya ke bahu Alvin alih-alih menenangkan.
“Gue kurang perhatian dari orang tua gue, tapi merasa dikekang juga.. Hahaha aneh ya.. gue juga gak ngerti gimana hidup gue ini. Yang pasti gue rasa gak ada yang sayang sama gue..ha..ha..” Alvin tertawa, kecewa. Ternyata hidupnya itu memang sulit dipahami.
“Terkadang..” Alvin dari sudut matanya melirik ke atas. Melihat Via yang memejamkan mata sambil menarik napas dalam lalu mengebus secara perlahan. Via membuka suara, setelah dia hanya menjadi pendengar yang baik untuk dirinya.
“…Orang tua kita itu emang sulit di ngertiin. Bagaimana maunya mereka, apa inginnya mereka, apa yang menjadi dasar hidup mereka dan yang lainnya. Tapi disini.. yang gue mau ralatin dari omongan lo itu, bahwa bukannya gak ada yang sayang sama lo. Banyak.. banyak banget yang sayang sama lo. Banyak banget… termasuk orang tua lo.”
“Dari mana lo tau? Rasa sayang mereka ke gue itu cuma pura-pura. Bullshit! Kadang gue juga ngerasa kalau gak ada sesuatu apapun yang bisa membuktikan kalau mereka sayang sama gue.” Sivia menggeleng, tidak setuju.
“Bukannya gak ada Vin.. setiap orang itu punya cara tersendiri buat ngungkapin rasa kasih sayangnya. Misalkan ke elo, mungkin gak keliatan. Tapi coba deh lo inget-inget lagi.. apa lo pernah peduli juga sama orang-orang itu? Yang memberikan kasih sayang ke elo secara diam-diam? Disini gue cuma mau nekankan, kalau lo jangan pernah nganggep kayak gitu lagi—merasa kalau lo itu gak disayang sama siapapun. Itu cuma ke egoisan kita aja.” ++++
“…Sangat ngebuat gue ngerti tentang hidup yang gue jalanin. Thanks a lot yeah?” Alvin tersenyum. Mengingat masa itu.. adalah hal yang paling ia senangi. Membuka lembaran masa lalunya itu, membuat ia lebih mengerti lagi tentang hidup yang dijalaninya.
“Lah gue kira apaan? Haha santai aja kali, gue juga gak ngerasa ngebantu elo kok. Gue mah cuma mau liat hidup lo seneng aja hehehe.”
Kalimat terakhir itu.. ah..
“Udah ah, sekarang lo ke sekolah nggak?” tanya Alvin, mengalihkan pembicaraan. Mata dan tangannya sambil mencari-cari headset, dapat. Dan ia langsung memakaikan headset itu ke ponsel dan telinganya.
“Ah iya.. nah maka dari itu Vin, gue nelpon lo ini buat minta tolong..”
“Gue kira lo nelpon gue karena kangen doang, ternyata ada udang dibalik batu ya? Haha..”
“Yee gak gitu juga kali. Gue kangen lo tapi mau minta tolong juga Vin..” “Sama aja bodo! Dasar hahaha..”
“Hehe ya udahlah, gue cuma mau minta, bisa gak jemput gue di…. airport?” “Loh? Emang lo…?” ----------
Besoknya setelah pembicaraan mereka di tempat duduk lapangan basket, Via menemani Alvin untuk menemui orang tuanya, yang pas sekali saat itu sedang berada dirumah.
Via-lah yang pertama memulai. Berkata dengan sopan dan ramah seperti biasa, hanya saja.. saat ia mulai membicarakan masalah Alvin dan kedua orang tuanya, papah Alvin langsung marah. Membentak Via.
“APA MAKSUDNYA KAMU! JANGAN PERNAH SOK TAHU TENTANG KELUARGA KAMI!” Via hanya tersenyum, lemah. Tetap berusaha sabar. Ia sudah terbiasa. Alvin dan papahnya itu mempunyai sifat yang sama, jadi, ia sudah kebal. Tenang saja..
“Saya mungkin belum terlalu banyak tahu om.. tapi anak om sendiri yang cerita ke saya. Mungkin, om, tante dan juga Alvin bisa membenahi dengan awal yang baru? Agar jadi keluarga yang lebih.. harmonis lagi?” Via menganggukan kepalanya. Tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan oleh orang tua Alvin. Menunduk—mungkin tengah mengingat-ingat apa yang telah terjadi selama ini pada keluarga mereka. Via berbalik, sekali lagi ia mengangguk dan menepuk bahu Alvin yang berdiri disampingnya. Menyuruh untuk mendekati kedua orang tuanya.
“Pah.. mah..” Alvin mendekat ke tubuh papah dan mamahnya. Orang tuanya itu mendongak. Tersenyum, merasa bersalah. Dan sesaat kemudian, tidak ada perkataan lain selain pelukan hangat dari orang tuanya—yang sempat dilupakan mereka—kepada Alvin.
Gue baru sadar. Pelukan orang tua itu hangat.. seperti hangatnya mentari yang nyinarin bumi waktu siang.. Dan sekarang.. gue merasakannya. Hidup gue kembali. Pelangi ada didepan mata. Harapan itu.. yang sempat memudar.. kini kembali berwarna.. Terimakasih Tuhan, terimakasih Via.. Kak Shilla.. gue kembali.. +++
“…jadi ke Singapur? Eh jadi yang dibilangin orang-orang itu bener?”
“Yep begitulah. Elo sih, habis acara wisuda SMA langsung ngeloyor pergi gak tahu kemana, sampai sekarang.. Tapi akhirnya ya.. gue tahu nomor lo juga haha..”
“Sorry, gue langsung ikut bokap nyokap gue ke Sydney. Dan gue kuliah disana hehe..” Alvin mengulum senyum seraya memutarkan kunci agar mobil kembali menyala. Sebelum kesana.. ia akan menjemput orang itu dulu.
Ah.. sudah lama tidak bertemu, apa paras dan wajahnya masih tetap sama ya? Apa ada yang berubah? Masih pake kacamata tidak ya? Dan tanpa harus memikirkan banyak pertanyaan lagi, ia segera menginjakkan pedal gas dan menuju airport. Menjemput orang itu. Yang telah mampu merebut hatinya. Walau ia tahu.. mungkin sosok yang selalu ditunggunya itu sudah mempunyai pendamping lain. ----------
“Kita semua sudah yakin Vin kalau kamu bisa berubah. Selamat ya nak.. kamu mendapat hasil yang bagus.” Pak Duta, guru yang dulu sering membentaknya itu sekarang memujinya. Alvin memang sudah berubah. Nilainya, secara perlahan mulai meningkat. Tidak melonjak langsung, tapi semua usahanya sudah mampu membuat orang-orang disekitarnya tersenyum bangga—termasuk orang tuanya.
Hari itu, dimana hari ia menyelesaikan tugasnya menjadi siswa SMA. Ia lulus dengan nilai yang memuaskan. Bekerja sendiri, berusaha semampunya dengan doa yang selalu ia panjatkan untuk hasil ujiannya.
Setelah bersalaman dengan para guru, Alvin berjalan ke kerumunan teman-temannya yang sudah mendahului dia bersalaman dengan guru-guru.
“Lo berhasil Vin!” Rio—teman sebangkunya sejak kelas 3 kemarin—menepuk bahu Alvin pelan. Tersenyum kagum.
“Yap bener Yo, ini juga berkat elo-elo semua hehe makasih ya..” Alvin mengangguk-anggukan kepalanya, balas tersenyum pada semuanya yang tengah memperhatikannya. Selama ini, selama ia berusaha untuk berubah, banyak sekali temannya yang—yang dulu sama sekali tidak dipedulikan—membantu dan menyemangatinya. Berjalan disisinya dengan segala dukungan. Dan ia sangat-sangat bersyukur akan hal yang ia dapatkan ini.
“Via mana ya?” Alvin mengedarkan pandangan. Sedari tadi ia belum bertemu perempuan yang satu itu. Perempuan yang entah sejak kapan sudah menetap dalam hatinya. Dengan segala kepolosan, dukungannya, keramah tamahannya, keberanian dan sifat pantang mundurnya yang membuat Alvin merasa.. jatuh hati.
“Kayaknya sih lagi dibelakang panggung deh, coba aja kesana.” Irva, satu-satunya orang yang mendengar pertanyaan Alvin menjawab. Perhatian semua orang kini tengah tertunjuk pada band adik kelas yang sedang manggung, ikut memeriahkan acara.
Alvin mengangguk lalu melangkahkan kakinya, ia akan pergi ke tempat yang dikatakan Irva. Ia menyempil-nyempil diantara banyak orang ketika berjalan menuju ke podium belakang panggung. Mengatakan kata “Permisi.” beberapa kali saat ia menyempil diantara kerumunan orang-orang itu.
Berhenti. Langkahnya terhenti ketika saat ia sudah sampai. Benar kata Irva kalau dipodium belakang panggung ini ada Via. Tapi tidak sendiri.. melainkan bersama seseorang.. seseorang yang ia tahu sebagai mantan Via waktu kelas 10. Gabriel.
Alvin terus berdiri ditempatnya, tersenyum tipis sambil memandangi punggung Sivia yang membelakanginya. Tapi ia masih bisa lihat kalau tangan Gabriel ditaruh di pundak Sivia. Tersenyum lebar sambil mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar Alvin. Gue keduluan, sialan..
Tanpa menunggu lebih lama lagi Alvin akhirnya beranjak dari tempatnya. Membalikkan badan dan meninggalkan Via yang masih saja dipegang pundaknya oleh Gabriel.
“Gue cinta lo, dari dulu sampai sekarang. Waktu lo mutusin hati gue sakit. Tapi gue juga ngerti kalau sebenernya dari dulu lo emang gak suka sama gue. Gue baru tahu akhir-akhir ini, kalau yang lo cinta itu… Alvin.” ++++
Sosok itu sudah duduk dijok mobilnya. Hanya perlu waktu 15 menit perjalanan agar sampai di airport, dan berhubung jarak kantor Alvin ke airport memang dekat. Beruntungnya lagi kota ini sedang tidak.. macet.
Dari sudut mata sebelah kirinya Alvin melirik Via. Tetap cantik seperti dulu. Senyum terus tergambar dibibirnya. Dan hal yang paling tidak disangka Alvin kalau dress selutut yang dipakai oleh Sivia senada dengan kemeja yang ia pakai. Coklat tua dengan renda-renda berwarna cream dibagian bawah.
“Baju kita kok.. bisa sama gini ya warnanya?” Ah, baru saja memikirkannya Via sudah melontarkan pertanyaan itu.
“Haha gak tau tuh..” Alvin kembali memusatkan pandangan ke jalanan, “Lo juga ternyata udah gak pake kacamata lagi ya? Kayak yang pernah gue bilang dulu, kalau lo lepas kacamata lo pasti kelihatan tambah… cantik.”
Entah sadar atau tidak, Alvin membuat Via jadi salah tingkah sendiri. Via membuang pandangannya keluar jendela disamping, berusaha mencari pengalihan, ia yakin semburat merah sudah merona dipipinya sekarang.
“Ya, gue pake contact lens.” Jawab Via pelan. Matanya menangkap pedagang kaki lima, jalanan kotor dan sampah berserakan dipinggir jalan. Ah..
“Yap, gue udah liat kok. Warna coklat juga hihi..” Alvin terkikik lalu melirik sebentar Sivia yang masih saja mengalihkan pandangannya ke samping jendela.
Hening. Tidak ada yang berani membuka suara lagi. Hanya sayup deru mobil yang terdengar ditelinga, pelan. Kecanggungan merasuk lagi, entah karena apa, mungkin karena terlalulamanya mereka tidak bertemu. Mungkin.. sebelum Alvin melontarkan pertanyaan lagi. Akhirnya!
“Lo masih kuliah Vi?”
“Udah mau selesei sih, tinggal sidang aja hehe.. Kalau elo gimana? Jangan bilang kalau lo di DO? Hahaha..”
Alvin menoyor kepala Via, pelan. “Enak aja yee lu! Gue itu udah keluar. Sekarang udah ngantor hehe..”
“Heh? Sejak?”
“Kalau ngantor sih sejak sebulan yang lalu hehehe kenapa? Kaget ya? Gue keluar dengan nilai cum-loude loh..”
“Wow..” ***
Pukul 09.15. Alvin dan Via akhirnya sampai di tempat yang dituju, Aventura School. Sekolah mereka waktu SMA dulu. Sekolah yang mampu membuat mereka mengerti tentang arti dari harapan-harapan, keajaiban..
Setelah memberhentikan sejenak mobil di depan gerbang sekolah—tertegun sebentar akibat sekolahnya terlihat semakin keren saja dari luar—akhirnya Alvin memarkirkan mobilnya diparkiran sekolah. Sudah banyak yang datang rupanya..
“Lo kira gue gak punya tangan apa? Udah.. gue bisa sendiri kali. Ngapain juga sih, sok amat deh hahaha..” tolak Via setelah diberikan penawaran oleh Alvin untuk membukakan pintunya. Lalu tanpa menoleh ke wajah Alvin lagi ia membuka pintu mobil dan keluar sambil menenteng dompet putihnya ditangan kanan.
Alvin mengangguk lalu tersenyum. Via selalu saja begitu. Tidak mau merepotkan dan selalu membuat tersenyum. Ah, dia lah satu-satunya pemilih hati Alvin.
Alvin mensejajarkan tubuhnya dengan Via. Lalu mereka berdua mulai melangkahkan kaki ke salah satu ruang yang dipakai untuk reunian-nya. Setiap orang yang dilewatinya dan yang tidak lain juga adalah teman seangkatannya, Alvin menyapa. Berhenti sebentar untuk sekedar menanyakan kabar, sedang Via asyik menungguinya dan ikut ber-say “Hello.” juga dengan teman-temannya.
“Itu Gabriel..” desah Alvin dan tidak sadar menarik tangan Via. Ia memberhentikan langkahnya lagi diambang pintu ruangan. Gabriel.. sedang menuju ke tempatnya dan Via berdiri.
“Eh? Kenapa Vin?” tanya Via tidak mengerti. “Gabriel..”
“Terus kenapa?” “Dia kan pacar lo Vi..”
“Hah?!” secara refleks Via membanting tangan yang ditarik Alvin tadi. Menatap Alvin dengan pandangan menyelidik, berusaha mencari tahu apa yang dipikirkan Alvin sampai-sampai bisa bicara ngelantur seperti itu.
“Apa maksud lo? Dia? Enak aja! Iel itu bukan pacar gue lah..” elak Via mantap.
“Lo.. putus lagi sama dia Vi?”
“Semenjak gue putus sama dia yang pertama kalinya, gue gak pernah nyambung ataupun pacaran lagi ya sama dia. Dia itu temen gue. Just friend, Alvin..” tutur Via greget. Kenapa begini sih?
“Hai Vin, dan.. hai Via..” Iel sudah ada didepan mereka. Dengan senyum yang ditebar penuh pesona.
“Hai juga Yel. Eh tolong jelasin dong nih ah sama si Alvin!” suruh Via sambil mengacakkan tangan dipinggangnya. Heran dengan sikap Alvin yang menurutnya berubah secara mendadak.
“Jelasin? Jelasin ap—“
“Lo bener bukan pacar Via lagi? Sejak kelas 10 yang lalu?” potong Alvin.
Iel mengangguk, sama tidak mengertinya dengan Via. Kenapa Alvin jadi seperti ini sih? Dapat dari mana info asal seperti itu! Tidak mutu sama sekali. Via dan Iel kan memang tidak pacaran.
“Oh.. bagus deh..” ujar Alvin lega. Jadi selama ini dia salah toh? Mungkin waktu dulu ia salah paham kali ya? Ah tapi walaupun waktu itu Via dan Iel jadian, ia tidak akan marah kok. Yang terpenting hari ini, dari keduanya sudah melontarkan sikap pengelakan bahwa mereka tidak pernah pacaran lagi semenjak putus dulu. Untunglah..
“Ya udah yuk sekarang kita temuin guru-guru yang udah berjasa buat kita.” Alvin menarik tangan Via lagi sampai tubuh mereka sedikit bertabrakan. Alvin mengangguk pamit pada Iel yang masih berdiri heran ditempatnya.
“Lo kenapa sih? Aneh tahu nggak..”
“Gue? Gak pa-pa kok Vi. Gue sekarang udah bisa mastiin aja..” “Mastiin?”
“Ya, mastiin kalau gue itu adalah satu-satunya cowok yang bisa berdiri disamping lo.” Alvin menurunkan tangannya dari pergelangan tangan Via ke telapaknya. Menggengam erat, seraya membungkukkan sedikit kepalanya ke samping Via berdiri dan berbisik lembut, “Love you..”
“Eh? Dan kamu tahu Vin? I love you too..”
Hari ini seperti yang udah dari pertama gue gambarin pasti bisa jadi lebih baik lagi. Kehidupan gue lengkap. Guru, orang tua, teman-teman dan hari ini.. cinta gue.. menyatu.
=====TAMAT=====
Karya :: zararaputeri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar